Radar Surabaya– Harapan meraup keuntungan dari distribusi susu program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru berujung petaka. Seorang warga Kabupaten Pamekasan Madura harus merelakan uang puluhan juta rupiah lenyap, setelah terjerat penipuan bermodus jual beli susu MBG yang marak melalui media sosial.
Korban berinisial ST mengungkapkan, peristiwa itu bermula dari perkenalannya dengan seseorang melalui akun Facebook yang mengaku sebagai penjual susu untuk kebutuhan program MBG. Pelaku menjanjikan pasokan susu sekolah dalam jumlah besar dengan harga yang dinilai menggiurkan.
Keyakinan ST kian menguat ketika sebuah truk bermuatan susu MBG benar-benar datang dan berhenti tepat di depan rumahnya pada Kamis (22/1). Korban sempat memeriksa muatan truk yang diklaim berisi 500 karton susu sesuai pesanan. Namun, barang tersebut tidak pernah diturunkan.
Di saat bersamaan, pelaku terus mendesak agar pembayaran segera dilunasi. Merasa transaksi berjalan aman dan nyata, ST akhirnya mentransfer uang sebesar Rp 50 juta sesuai permintaan.
“Setelah uang saya transfer, nomor telepon penjual tidak bisa dihubungi lagi,” ujar ST.
Kecurigaan berubah menjadi kepanikan ketika sopir truk menolak menurunkan muatan dengan alasan belum menerima konfirmasi pembayaran. Tak berselang lama, truk tersebut justru meninggalkan lokasi, membawa seluruh karton susu yang sebelumnya sempat diperlihatkan.
“Sopir bilang belum ada bukti pelunasan. Saya tidak bisa berbuat banyak karena memang tidak memegang bukti apa pun,” imbuhnya.
Belakangan diketahui, kasus serupa bukan hanya menimpa ST. Warga Desa Laden, Kecamatan Pamekasan, Ali Makki, menyebut praktik penipuan dengan modus jual beli susu MBG telah menyasar sejumlah wilayah lain.
“Kasus seperti ini bukan hanya di Pamekasan kota. Di Kecamatan Blumbungan dan Desa Laden juga ada korban dengan modus hampir sama,” ungkapnya.
Baca Juga: Investasi Fiktif, Oknum ASN Jaksel Tipu Kenalan di Surabaya Mencapai Rp 7 Miliar
Menurut Ali, pelaku kerap memanfaatkan keberadaan truk sebagai alat meyakinkan calon korban. Ironisnya, setelah uang ditransfer, penjual dan sopir truk disebut tidak saling mengenal, seolah berdiri di dua dunia berbeda.
Warga pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap transaksi daring yang mengatasnamakan program pemerintah. Verifikasi legalitas penjual dan kejelasan mekanisme distribusi menjadi kunci agar kejadian serupa tidak kembali memakan korban. (rra/fir)
Editor : M Firman Syah