RADAR SURABAYA - Kawasan Pawitandirogo, yakni Pacitan, Ngawi, Magetan, Madiun, dan Ponorogo dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur (Jatim). Ini diungkapkan anggota Komisi E DPRD Jatim, Suli Daim.
Ia menyebut wilayah tersebut memiliki potensi kekayaan budaya, alam, dan kerajinan lokal yang luar biasa. Dia yakin jika dikelola dengan baik bisa berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, kawasan Pawitandirogo yang meliputi Ponorogo, Pacitan, Madiun, Ngawi, dan Magetan menyimpan potensi besar yang selama ini belum terkelola secara terintegrasi.
“Potensi budaya, kerajinan lokal, dan alam di kawasan Mataraman ini sangat kuat. Kalau semua itu dikoneksikan dengan baik, maka akan menjadi kekayaan budaya yang terekspos luas dan menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan,” ujar Suli Daim, Senin (22/12).
Ia lalu mencontohkan di Ponorogo yang memiliki potensi budaya Reog telah mengakar kuat di masyarakat. Tercatat, terdapat sekitar 305 kelompok Reog yang tersebar hampir di seluruh desa.
Belum lagi momentum tahunan seperti Grebeg Suro terbukti mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara, sekaligus menggerakkan sektor perhotelan, UMKM, hingga transportasi di Ponorogo dan daerah sekitarnya seperti Madiun.
Tak hanya Ponorogo, Pacitan disebut sebagai salah satu destinasi unggulan dengan potensi wisata alam yang menjanjikan. Pantai-pantai selatan seperti Watu Karung dikenal eksotis, bersih, dan menjadi destinasi favorit wisatawan asing, terutama peselancar.
Selain itu, Pacitan juga memiliki kekhasan budaya berupa batu akik, kerajinan lokal, batik tulis, serta julukan Kota 1.000 Goa yang memperkuat daya tarik wisatanya.
“Pacitan itu lengkap. Alamnya masih perawan, pantainya indah, kulinernya segar, dan budayanya khas. Kalau aksesnya dipermudah, Pacitan bisa menjadi kota wisata yang sangat kuat,” katanya.
Suli Daim juga menyoroti potensi Magetan dengan Telaga Sarangan, industri kulit, hingga kuliner khas.
Politikus PAN itu menilai penyelesaian Jalur Lintas Selatan (JLS) akan menjadi pemicu penting pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.
Pihaknya juga mendorong konsep penataan wilayah Mataraman yang terintegrasi, serupa dengan kawasan Gerbangkertosusila di sekitar Surabaya. Melalui paket wisata terpadu—mulai dari budaya Reog, pantai selatan, wisata alam, hingga kerajinan lokal masyarakat di berbagai daerah dapat merasakan manfaat ekonomi secara merata.
“Wisata itu harus dipaketkan. Negara hadir untuk memfasilitasi konektivitas antarwilayah, agar masyarakat mudah menikmati seluruh potensi budaya dan wisata yang ada di Mataraman,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui APBD 2026 juga menyiapkan dukungan konkret bagi pelaku seni dan budaya. Sekitar 2.000 pelaku budaya di kawasan Mataraman akan mendapatkan apresiasi berupa bantuan insentif sebagai bentuk penghargaan dan dukungan agar terus berkarya dan mengedukasi masyarakat melalui jalur budaya.
“Pelaku budaya adalah ujung tombak. Mereka bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan penggerak ekonomi. Budaya dan pariwisata yang tumbuh dengan baik akan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat,” katanya.
Dengan penguatan infrastruktur, konektivitas wilayah, dan dukungan terhadap pelaku budaya, kawasan Pawitandirogo diharapkan mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis budaya dan pariwisata di Jawa Timur. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto