RADAR SURABAYA - Di balik kesibukannya memimpin sebuah perusahaan properti, Faradilla Anisatus Sakdiah S.Pd.I., M.Pd.I., selalu menyisakan ruang kecil untuk cinta lamanya menulis.
Dari tangan seorang pendidik yang kini menjadi Owner Syafa Grup itu, lahir cerita-cerita yang telah tumbuh sejak ia masih anak-anak, ketika kertas, pena, dan imajinasi menjadi dunia yang tak pernah gagal memberinya tempat untuk pulang.
Hingga kini sejumlah karyanya berhasil diterbitkan. Di sela rapat bisnis dan kunjungan proyek, Sakdiah yang akrab disapa terus merawat hobinya, menghadirkan sisi lain seorang perempuan yang tidak hanya membangun hunian, tetapi juga merangkai kata-kata yang menghidupkan.
Ketertarikan Sakdiah pada dunia tulis-menulis bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, almarhum ayahnya telah mengarahkan ia untuk akrab dengan kata dan imajinasi. Puisi dan cerita pendek yang ditulisnya kala itu bahkan rutin dikirimkan dan dimuat di sejumlah majalah anak-anak. Dari sanalah benih kecintaan terhadap dunia literasi tumbuh dan terus bersemi.
Memasuki jenjang SMA, Sakdiah memilih kelas bahasa. Pilihan tersebut semakin menguatkan relasinya dengan sastra Indonesia. Aktivitas membaca karya-karya sastra dan menulis menjadi bagian dari kesehariannya. Ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, minat menulis itu bertransformasi dalam bentuk yang lebih akademis.
"Penelitian menjadi aktivitas yang justru saya nikmati. Bagi saya, riset adalah pekerjaan yang menyenangkan, tidak membosankan, sekaligus memberi ruang luas untuk menuangkan gagasan ke dalam tulisan," kata Sakdiah.
Baginya, pengalaman paling berkesan dalam proses menulis datang dari sejumlah penelitian yang bersinggungan dengan budaya dan agama. Dalam riset-riset tersebut, ia banyak menjumpai keragaman, mulai dari perbedaan keyakinan, budaya, hingga latar belakang suku.
"Pengalaman itu memperkaya sudut pandang dan kerap menjadi sumber inspirasi utama dalam karya-karya saya, ketika meneliti budaya dan agama, saya menemukan banyak perbedaan. Dari situ saya belajar bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tapi dipahami." tuturnya.
Tema yang paling sering diangkat dalam tulisannya adalah komparasi antara budaya dan agama, selain puisi dan novel. Dalam proses kreatif, Sa’diah tidak membutuhkan banyak hal. Waktu yang tenang menjadi kunci utama agar inspirasi mengalir dan apa yang ada di benak dapat dituangkan dengan jujur ke dalam tulisan.
Hingga kini, tujuh buku telah berhasil ia tulis dan terbitkan. Salah satu karya yang paling berkesan baginya adalah buku berjudul Februari, 25 Awal yang Tak Lagi Sama. Buku tersebut mengisahkan tentang perjuangan, sebuah tema yang dekat dengan perjalanan hidup banyak orang. Menariknya, karya ini tengah dipersiapkan untuk diadaptasi ke layar lebar melalui kerja sama dengan salah satu sutradara.
Meski demikian, perjalanan menulis dan menerbitkan buku tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang kerap dihadapi adalah kebuntuan ide, terutama ketika tenggat waktu dari penerbit datang bersamaan dengan kesibukan pekerjaan dan persoalan lain. Di titik inilah konsistensi dan kedisiplinan diuji agar karya tetap bisa diselesaikan.
Dalam menentukan ide untuk buku baru, Sa’diah kerap berangkat dari pengalaman personal yang benar-benar menyentuh hati. Ia mencontohkan salah satu karyanya yang baru, yang mampu diselesaikan hanya dalam waktu satu minggu karena ide dan inspirasinya mengalir langsung dari perasaan terdalam.
“Tantangan terbesar adalah ketika inspirasi buntu sementara deadline sudah menunggu, apalagi jika bersamaan dengan kesibukan pekerjaan. Kalau ide datang dari hati, menulis bisa terasa sangat cepat.” jelas sosok perempuan inspiratif ini.
Perempuan, Literasi, dan Kepemimpinan
Ada rasa bangga yang tak tersembunyi dari raut wajah Sakdiah setiap kali mengetahui buku-buku karyanya digunakan oleh rekan-rekan pendidik sebagai referensi dalam kegiatan belajar-mengajar. Baginya menulis bukan semata tentang melahirkan karya, melainkan ikhtiar berbagi ilmu yang bernilai panjang.
Ia meyakini, setiap tulisan yang dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan orang lain akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Prinsip inilah yang membuatnya tetap setia menulis di tengah padatnya tanggung jawab memimpin perusahaan.
"Tulisan bukan hanya rekam jejak pemikiran, tetapi juga wujud kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia," jelasnya.
Sa’diah memandang perannya sebagai pendidik, penulis, dan pemimpin perusahaan memiliki keterkaitan yang erat. Menurutnya, memimpin sebuah perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan manajerial dan pengalaman lapangan. Diperlukan pula kemampuan menulis dan melakukan riset agar sistem, kebijakan, serta arah perusahaan dapat dirancang secara lebih terstruktur, terukur, dan sistematis.
“Menulis dan riset membantu saya berpikir lebih runtut. Dari sana, visi perusahaan bisa diterjemahkan ke dalam konsep dan strategi yang jelas,” tutur perempuan berhijab ini.
Ke depan, Sa’diah berharap karya-karya yang telah dan akan ditulisnya dapat terus memberi inspirasi bagi banyak orang, khususnya generasi muda, untuk tetap bersemangat mengembangkan karier dan potensi diri. Ia juga menitipkan pesan khusus bagi para perempuan agar tidak ragu berkarya di berbagai bidang, baik pendidikan, bisnis, maupun dunia literasi.
Menurutnya, tantangan akan selalu ada, tetapi peluang pun senantiasa terbuka bagi mereka yang mau belajar, bertumbuh, dan tidak mudah menyerah. “Selama kita mau bertahan dan terus mengasah diri, jalan itu pasti ada,” pungkasnya. (ind/gun)
TENTANG Faradilla Anisatus Sakdiah S.Pd.I., M.Pd.I.,
Tempat Lahir: Malang
Tanggal Lahir: 02 April 1990
PENDIDIKAN:
• SD Annur Tumpang Malang
• MTs Negeri 7 Tumpang Malang
• SMA Negeri 1 Tumpang Malang
• Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang: S1 (Strata 1)
• Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang: S2 (Strata 2)
KARIER:
• Dirut PT Indie Syafa Transforma.
• Dirut PT Eco Syafa Harvers.
• Owner Syafa Grup.
HOBI:
Membaca Buku, Traveling, Kuliner, Hiking
KARYA BUKU:
• Hanya Maaf yang Pantas
• Februari, 25 Awal yang Tak Lagi Sama
• Z Untold Story
• Kemenangan yang Menyisakan Luka
• Terpendamnya Rasa di Jember
• Transformasi Keberagama-an
• Kalah
Editor : Guntur Irianto