RADAR SURABAYA – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur (Jatim), Erwin Astha Triyono, menegaskan bahwa HIV/AIDS dapat dicegah dan diobati. Kunci utama pencegahan adalah menghindari perilaku seks berisiko serta penggunaan narkoba suntik, disertai dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat.
Menurut Erwin, penemuan kasus menjadi strategi paling efektif untuk mengakhiri epidemi HIV atau menuju target eliminasi HIV/AIDS tahun 2030. "Semakin dini seseorang terdeteksi dan mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV), maka risiko penularan dapat ditekan dan angka harapan hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) akan semakin baik," ujarnya, Minggu (14/12).
Jumlah Orang Terjangkit HIV/AIDS Dinkes Jatim
Data Dinkes Jatim menunjukkan tren penurunan penemuan kasus HIV dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, tercatat sebanyak 10.671 kasus HIV. Jumlah tersebut menurun menjadi 10.556 kasus pada 2024. Sementara itu, hingga Oktober 2025, penemuan kasus HIV baru kembali turun signifikan menjadi 8.962 kasus.
“Penurunan ini tidak lepas dari kinerja baik Dinas Kesehatan kabupaten/kota dalam melakukan deteksi dini, pengobatan, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat,” ujar Erwin.
Untuk periode Januari hingga Oktober 2025, penemuan kasus HIV di Kota Surabaya tercatat sebanyak 983 kasus. Secara distribusi di Jawa Timur, kasus HIV terbanyak ditemukan di Kota Surabaya (983 kasus), Kabupaten Jember (632), Kabupaten Sidoarjo (549), Kabupaten Pasuruan (418), Kabupaten Malang (415), Kota Malang (410), Kabupaten Lumajang (401), Kabupaten Banyuwangi (385), Kabupaten Nganjuk (294), dan Kabupaten Probolinggo (289). Sementara itu, 28 kabupaten/kota lainnya mencatat total 4.186 kasus.
Berdasarkan jenis kelamin, kasus HIV-AIDS di Jawa Timur masih didominasi oleh laki-laki sebesar 65 persen, sedangkan perempuan 35 persen. Dari sisi kelompok usia, data tahun 2024 mencatat kasus HIV positif pada remaja usia 15–19 tahun sebanyak 333 kasus, dengan rincian 274 kasus pada laki-laki dan 59 kasus pada perempuan. Hingga Oktober 2025, jumlah tersebut menurun menjadi 255 kasus, terdiri dari 196 kasus pada laki-laki dan 59 kasus pada perempuan. "Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam upaya pencegahan pada kelompok usia remaja," katanya.
Sementara itu, kasus HIV pada anak umumnya terjadi akibat penularan dari ibu yang positif HIV dan tidak menjalani pengobatan. Hingga Oktober 2025, ditemukan 75 kasus HIV pada anak atau sekitar 1,05 persen dari total ODHIV di Jawa Timur. Penularan dari ibu ke anak dapat dicegah melalui penapisan sejak awal kehamilan atau antenatal care (ANC). Jika status HIV ibu diketahui lebih dini, pengobatan dapat segera diberikan untuk menekan jumlah virus dalam darah sehingga risiko penularan ke bayi dapat diminimalkan.
"Faktor risiko utama HIV/AIDS di Jawa Timur masih didominasi oleh perilaku seks berisiko dan penggunaan narkoba suntik," katanya.
Dalam penanggulangan HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya, antara lain menetapkan Perda Nomor 12 Tahun 2018 dan Pergub Nomor 35 Tahun 2020 sebagai dasar hukum penanggulangan HIV-AIDS, melakukan deteksi dini dan skrining masif pada populasi kunci dan kelompok rentan, notifikasi pasangan, serta pemeriksaan bayi baru lahir dari ibu dengan HIV.
Baca Juga: SEA Games 2025: Indonesia Kokoh di Peringkat Kedua Klasemen Medali
Selain itu, Dinkes Jatim juga memastikan pemenuhan logistik obat dan reagen, menambah sarana tes, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta melibatkan komunitas dalam kegiatan testing dan pendampingan pengobatan. Edukasi juga terus dilakukan melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) di media sosial dan webinar, disertai upaya pencegahan seperti pemberian PrEP, PEP, kondom, dan jarum suntik steril.
Ke depan, Dinkes Jatim akan memperluas akses layanan testing, pengobatan, dan laboratorium HIV, memperkuat jejaring internal dan eksternal layanan HIV-AIDS, melanjutkan edukasi kepada masyarakat, serta mengoptimalkan peran Tim Koordinasi Penanggulangan HIV-AIDS (TKPHA) Jawa Timur.
Baca Juga: SPBU Pertama di Surabaya Ada di Gubeng Tahun 1930, Hanya Bagi Orang Kaya dan Eropa
“Skrining HIV dan pengobatan ARV gratis akan terus dilakukan melalui strategi ‘Test and Treat’. Ini adalah pendekatan terbaik untuk menemukan kasus secara dini, segera memberikan pengobatan, menurunkan angka penularan, dan meningkatkan kualitas hidup ODHIV,” pungkas Erwin. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto