Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jawa Timur Miliki Lebih Dari 30 Ribu Hektare Hutan Mangrove, Jadi yang Terluas di Pulau Jawa

Mus Purmadani • Sabtu, 6 Desember 2025 | 21:36 WIB

 

Jawa Timur kini memiliki 30.839,3 hektare hutan mangrove, terbesar di Pulau Jawa dengan kontribusi hampir 48,38 persen dari total mangrove di Jawa.
Jawa Timur kini memiliki 30.839,3 hektare hutan mangrove, terbesar di Pulau Jawa dengan kontribusi hampir 48,38 persen dari total mangrove di Jawa.

RADAR SURABAYA - Provinsi Jawa Timur mencatat peningkatan signifikan luasan hutan mangrove dalam empat tahun terakhir. Rata-rata penambahan mencapai lebih dari 900 hektare per tahun, dengan total kenaikan sebesar 3.618 hektare atau 13,29 persen sejak 2021.

Data terbaru menunjukkan, Jawa Timur kini memiliki 30.839,3 hektare hutan mangrove, menjadikannya provinsi dengan kawasan mangrove terluas di Pulau Jawa, yakni menyumbang hampir 48,38 persen dari total mangrove di Jawa.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa capaian ini merupakan bukti konsistensi pemerintah daerah dalam memperkuat pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada lingkungan hidup.

“Melalui program Mangrove Lestari, kita berkomitmen memperkuat ketahanan lingkungan dan berkontribusi nyata terhadap target Net Zero Emission 2060. Ini adalah ikhtiar Jawa Timur untuk menjaga bumi agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” ujarnya, Jumat (5/12).

Selain program mangrove, Pemprov Jatim juga mengembangkan 5.170 bank sampah, terbanyak secara nasional.

Bank sampah tidak hanya memberi manfaat ekonomi dan sosial, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi pencemaran tanah dan air, serta menekan emisi gas rumah kaca seperti metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2).

Hutan mangrove memiliki peran penting bagi ekosistem pesisir dan masyarakat:
- Ekologis: Menahan abrasi pantai, mencegah intrusi air laut, dan menjadi habitat berbagai biota laut.
- Iklim: Menyerap karbon lebih efektif dibanding hutan daratan, sehingga berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.
- Ekonomi: Menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pesisir melalui perikanan, ekowisata, dan hasil hutan non-kayu.
- Sosial budaya: Melestarikan tradisi masyarakat pesisir yang bergantung pada ekosistem mangrove.

Khofifah menambahkan, rehabilitasi mangrove dan pengelolaan sampah merupakan dua strategi penting dalam mitigasi perubahan iklim.

“Dengan memilah dan mengurangi sampah ke TPA, kita turut mengurangi emisi metana yang 25 kali lebih berbahaya dibanding karbon dioksida,” jelasnya.

Dengan total luasan mencapai 30.839,3 hektare, Jawa Timur kini menjadi provinsi dengan mangrove terluas di Pulau Jawa.

Penambahan lebih dari 900 hektare per tahun menunjukkan komitmen nyata pemerintah daerah dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung target nasional Net Zero Emission 2060.
Khofifah berharap, keberhasilan ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.

“Semoga langkah Jawa Timur bisa menjadi teladan dalam menjaga lingkungan dan melestarikan ekosistem mangrove untuk generasi mendatang,” pungkasnya. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Lingkungan #pulau jawa #Jawa Timur #mangrove #khofifah indar parawansa #Hutan Mangrove