RADAR SURABAYA – Peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta menjadi peringatan serius bagi seluruh satuan pendidikan, salah satunya di Jawa Timur (Jatim). Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Jatim, Aries Agung Paewai, meminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan keamanan lingkungan sekolah.
Aries menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang melukai puluhan orang saat pelaksanaan salat Jumat di masjid sekolah tersebut.
“Saya mengucapkan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa yang terjadi di SMAN 72 Jakarta. Tentu hal ini perlu disikapi dengan waspada dan kehati-hatian, agar tidak terjadi di sekolah lain, terutama di Jawa Timur,” ujar Aries, Minggu (9/11).
Kadindik kelahiran Makassar itu meminta seluruh sekolah di Jawa Timur memperketat sistem keamanan internal. Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap orang yang tidak dikenal di lingkungan sekolah.
“Penjaga sekolah harus menanyakan keperluan tamu yang masuk ke area sekolah. Pengawasan tidak hanya dilakukan saat jam belajar, tetapi juga melalui patroli di luar jam sekolah. Jika ada aktivitas atau barang mencurigakan, segera laporkan kepada pihak berwajib,” tegasnya.
Aries juga menginstruksikan agar jadwal patroli dilakukan secara ketat, disiplin, dan berkala di seluruh lingkungan sekolah. Langkah ini diharapkan mampu mendeteksi dini potensi ancaman atau benda berbahaya.
“Saya minta semua insan pendidikan saling menjaga satu sama lain. Kita harus mengantisipasi dengan bijak agar tidak timbul rasa takut dalam belajar. Justru kita ciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman,” ujarnya.
Terkait temuan bom rakitan di lokasi kejadian yang diduga dibawa seorang siswa korban bullying, Aries menegaskan bahwa perilaku perundungan tidak bisa ditoleransi.
Menurut mantan Pj Wali Kota Batu itu, Dinas Pendidikan Jatim selama ini telah gencar melakukan sosialisasi dan pembinaan untuk memutus rantai kekerasan di sekolah, mulai dari guru, kepala sekolah, hingga cabang dinas wilayah.
“Kami minta kepala sekolah memperketat pengawasan terhadap seluruh aktivitas siswa. Jangan hanya fokus pada keamanan fisik, tapi juga pantau kondisi psikologis mereka,” tutur Aries.
Ia menekankan pentingnya pendekatan humanis melalui pembinaan dan pendampingan bagi siswa yang menunjukkan perilaku ekstrem atau mengalami tekanan emosional.
“Peran guru BK dan wali kelas sangat krusial. Mereka harus disiplin memantau siswa yang berpotensi mengalami tekanan psikologis atau menjadi korban bullying. Dengan dialog dan pengawasan intensif, kita bisa mencegah penyimpangan perilaku sejak dini,” jelasnya.
Aries menutup dengan mengingatkan pentingnya sinergi antara pihak sekolah, guru, dan wali murid dalam menjaga keamanan serta membangun iklim belajar yang positif.
“Dengan kerja sama semua pihak, kita bisa memastikan sekolah menjadi tempat yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh siswa,” pungkasnya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto