Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tanah Retak di Madiun: ESDM Jatim dan ITS Lakukan Mitigasi, Warga Diminta Waspada Potensi Longsor

Rahmat Adhy Kurniawan • Sabtu, 8 November 2025 | 00:37 WIB
Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur bersama Tim Kaji Cepat dari Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan mitigasi tanah retak di Madiun.
Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur bersama Tim Kaji Cepat dari Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan mitigasi tanah retak di Madiun.

RADAR SURABAYA – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur bersama Tim Kaji Cepat dari Departemen Teknik

Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan mitigasi tanah retak di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Jatim, Ertika Dinawati, mengatakan kegiatan mitigasi tersebut melibatkan sejumlah pihak, termasuk BPBD Provinsi Jatim, BPBD Kabupaten Madiun, dan pemerintah desa setempat.

“Mitigasi ini dilakukan untuk mendapatkan pemetaan lebih detail yang nantinya dikolaborasikan dengan hasil kaji cepat dari tim ITS,” ujar Ertika di Madiun, Jumat (7/11).

Menurutnya, tim gabungan juga melakukan pemetaan area retakan serta mendata warga yang terdampak.

Hasilnya diharapkan menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah dalam mengambil langkah penanganan selanjutnya.

Retakan Berpotensi Longsor

Perwakilan Tim Kaji Cepat Departemen Geofisika ITS, Haris Miftakhul, mengungkapkan bahwa retakan tanah di Desa Mendak menunjukkan pola cukup luas dan berpotensi memicu longsor.

“Hasil kajian awal menunjukkan retakan menyebar hingga sekitar 50 meter dengan pola vertikal. Beberapa pondasi rumah juga sudah mengalami penurunan.

Dari hasil pengamatan kami, tanah di kawasan ini sudah sangat lapuk sehingga berpotensi longsor,” kata Haris.

Ia menjelaskan, struktur batuan dasar di wilayah tersebut berupa batu breksi yang seharusnya keras jika masih segar. Namun, pelapukan intensif membuat kekuatan tanah menurun.

“Ketebalan lapukan diperkirakan mencapai 10 meter. Kondisi ini diperparah karena lokasi Desa Mendak berdekatan dengan kawasan panas bumi Telaga Ngebel yang mempercepat proses pelapukan,” ujarnya.

Berdasarkan catatan warga, retakan serupa pernah muncul pada 2004 dan 2014, bahkan sempat memicu longsor.

Warga Diminta Waspada dan Kurangi Infiltrasi Air

Haris menegaskan bahwa indikasi pergerakan tanah berulang harus menjadi perhatian serius semua pihak, baik pemerintah daerah maupun provinsi.

“Artinya, ada indikasi pergerakan tanah berulang. Ini harus jadi perhatian serius semua pihak,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, tim ITS merekomendasikan agar warga memperhatikan saluran air rumah tangga yang masih terbuka.

Air dari aktivitas harian seperti mencuci pakaian, mandi, atau membersihkan rumah dapat meresap ke tanah dan mempercepat retakan.

“Tidak selalu berkaitan dengan musim hujan. Air dari aktivitas sehari-hari saja bisa membuat tanah makin jenuh dan memperparah retakan,” jelas Haris.

Selain itu, ITS juga menyarankan pemasangan Early Warning System (EWS) untuk memantau pergerakan tanah di kawasan tersebut.

“Ini langkah awal mitigasi. Minimal ada alat pemantau yang bisa memberikan peringatan dini bagi warga,” tambahnya.

Delapan Rumah Rusak, Warga Mengungsi

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Madiun, sekitar delapan rumah warga di Desa Mendak mengalami kerusakan akibat retakan tanah dengan lebar mencapai 10–15 sentimeter.

BPBD setempat telah mendirikan tenda darurat sebagai tempat pengungsian sementara bagi warga terdampak.

Pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menentukan langkah penanganan jangka panjang.

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#esdm jatim #its surabaya #longsor #tanah retak