RADAR SURABAYA - Sebuah video pernikahan yang diunggah oleh pembawa acara Erwin Siddhartha viral di media sosial karena menyimpan kisah cinta yang luar biasa.
Bukan tentang pesta mewah atau dekorasi megah, melainkan tentang keberanian seorang pria bernama Andre yang tetap melangsungkan akad nikah meski tengah berjuang melawan penyakit berat.
Dalam kondisi fisik yang sangat lemah, Andre tetap bersikeras menikahi kekasihnya, Evi, dan menghembuskan napas terakhir tak lama setelah prosesi sakral itu selesai.
Unggahan tersebut dibagikan melalui akun TikTok @erwinsiddhartha dan telah ditonton lebih dari satu juta kali.
Warganet membanjiri kolom komentar dengan doa dan ungkapan haru, menyebut kisah Andre dan Evi sebagai simbol cinta sejati yang langka dan menyentuh hati.
Dalam video tersebut, Erwin menceritakan bahwa keluarga besar Andre sebenarnya telah siap untuk menunda atau bahkan membatalkan pernikahan karena kondisi kesehatannya yang terus menurun. Namun, Andre tetap bersikeras melangsungkan akad nikah.
“Hari ini akan saya ceritakan kisah tentang kegigihan, ketulusan, pengorbanan, cinta, dan tekad Mas Andre,” tulis Erwin dalam unggahannya.
Andre diketahui mengidap TBC jantung, penyakit yang baru terdiagnosis setelah ia sempat mengalami batuk berkepanjangan.
Ia sempat menjalani rawat inap pertama pada 1 September 2025, lalu kembali bekerja setelah kondisinya membaik.
Namun, pada pemeriksaan lanjutan, dokter menyarankan pemasangan selang untuk mengeluarkan cairan dari jantung. Tindakan medis itu dijadwalkan setelah akad nikah, sesuai permintaan Andre sendiri.
Dikutip dari Wollipop, prosesi akad nikah digelar pada 15 Oktober 2025 di kediaman mempelai wanita di Kunjang, Kediri, Jawa Timur.
Acara berlangsung sangat singkat, tak lebih dari 60 menit, dengan dokter dan perawat disiagakan di lokasi.
Meski dalam kondisi lemah, Andre tetap menjalani seluruh rangkaian acara dengan tenang dan khidmat. Ia ingin menepati janjinya kepada Evi, wanita yang telah setia mendampinginya selama masa-masa sulit.
Setelah akad dan temu adat selesai, Andre langsung dibawa ke RS Dr. Soetomo Surabaya untuk menjalani pemasangan selang.
Kondisinya sempat membaik pascaoperasi, namun pada 25 Oktober 2025, ia mengalami penurunan drastis, muntah, sesak napas, dan batuk darah.
Sang kakak, Reni, yang sempat pulang, kembali ke rumah sakit untuk menemani Andre di saat-saat terakhirnya.
Momen terakhir Andre begitu mengharukan. Ia sempat meminta pelukan dari Reni, kakaknya, dan menyampaikan permintaan untuk bertemu Evi.
Saat Evi dipanggil dokter, tim medis melakukan tindakan CPR. Evi, yang juga seorang perawat, kembali ke ruangan dan dengan lirih berkata kepada Reni, “Saya ikhlas, Mbak. Kasihan Mas,” begitu pesan Evi.
Detak jantung Andre sempat kembali, namun ia harus dipasangi selang pernapasan. Setelah keluarga mengikhlaskan, Andre menghembuskan napas terakhir dalam pelukan dua perempuan yang paling mencintainya, Evi dan Reni. Ia pergi dengan tenang, setelah menunaikan janjinya sebagai suami.
Menurut Erwin, kisah ini dibagikan bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk meluruskan kesalahpahaman dan menunjukkan bahwa cinta sejati masih ada.
Ia juga ingin menegaskan bahwa keputusan Andre bukan karena paksaan, melainkan keinginan tulus untuk menepati janji suci kepada Evi. (pop/nur)
Editor : Nurista Purnamasari