RADAR SURABAYA - Upaya seorang orang tua mencari anak perempuannya yang tak kunjung pulang selama beberapa hari berujung pada penggerebekan rumah kontrakan di Desa Rogonoto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Dari penggerebekan tersebut, aparat kepolisian menemukan dugaan praktik prostitusi yang melibatkan delapan orang, termasuk tiga anak perempuan di bawah umur.
Kapolsek Singosari Kompol Tri Widyanto Fauzal menjelaskan bahwa penggerebekan bermula dari laporan warga yang mengetahui keberadaan anak perempuan tersebut di sebuah rumah kontrakan.
Orang tua korban datang ke lokasi bersama ketua RT dan warga sekitar, lalu melaporkan temuan itu ke Polsek Singosari.
“Awalnya ada laporan dari warga. Orang tua korban datang ke lokasi bersama Pak RT dan warga sekitar. Karena melihat banyak orang di dalam rumah itu, warga melapor ke Polsek. Kami langsung datang dan mengamankan semuanya,” ujar Tri Widyanto, Selasa (28/10).
Polisi mendapati delapan orang bukan pasangan suami istri di dalam rumah tersebut, terdiri dari empat pria dewasa dan empat perempuan, tiga di antaranya masih berstatus anak di bawah umur.
Selain itu, petugas juga menemukan sejumlah botol minuman keras yang memperkuat dugaan aktivitas ilegal di lokasi.
Video penggerebekan sempat viral di media sosial, memperlihatkan warga menyoraki para perempuan yang keluar dari rumah kontrakan.
Penggerebekan dilakukan pada Senin (27/10) malam, oleh tim gabungan dari kepolisian, TNI, perangkat desa, dan warga setempat.
Delapan orang yang diamankan saat penggerebekan kini tengah menjalani pemeriksaan intensif di Polsek Singosari.
Polisi juga telah memanggil pemilik rumah kontrakan dan berencana melakukan penggeledahan lanjutan untuk mengungkap dugaan praktik prostitusi secara menyeluruh.
“Kami belum lakukan penggeledahan secara menyeluruh. Karena saat itu banyak warga, kami amankan delapan orang terlebih dahulu,” pungkas Tri Widyanto.
Kasus ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat dan aparat untuk meningkatkan pengawasan terhadap lingkungan sekitar, khususnya terhadap anak-anak dan remaja yang rentan menjadi korban eksploitasi. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari