RADAR SURABAYA — Lonjakan kasus influenza hingga tujuh kali lipat di Malaysia menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan di Indonesia.
Meski begitu, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya memastikan belum ada pengetatan atau skrining khusus di pintu masuk internasional seperti bandara dan pelabuhan di Jawa Timur.
Kepala BBKK Surabaya, Rosidi Roslan, mengatakan bahwa pengawasan di pintu masuk wilayah kerja mereka masih berjalan normal.
Menurutnya, hingga saat ini belum ada arahan resmi dari pusat untuk melakukan pengetatan di pelabuhan maupun bandara.
“Pengawasan dan skrining tetap berjalan seperti biasa. Peningkatan kasus masih dalam batas wajar karena pengaruh pancaroba atau peralihan musim dari kemarau ke hujan,” ujar Rosidi, Selasa (28/10).
Pantauan Kesehatan Lewat Sistem All Indonesia
BBKK Surabaya menggunakan sistem All Indonesia untuk memantau riwayat kesehatan dan perjalanan para pelaku perjalanan internasional.
Melalui sistem ini, data kesehatan dan aktivitas perjalanan setiap orang tercatat dan dipantau secara real time.
“Saat ini kami sudah memiliki alat pantau melalui sistem All Indonesia, di mana pelaku perjalanan mencantumkan riwayat kesehatan dan perjalanannya.
Sejauh pantauan kami, semuanya masih dalam kondisi aman dan terkendali,” jelas Rosidi.
Pihak BBKK juga secara rutin menerima laporan pembaruan situasi penyakit menular dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Berdasarkan laporan resmi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), tren peningkatan kasus influenza masih tergolong normal dan bersifat musiman.
Perkuat Surveilans dan Edukasi Masyarakat
Untuk mencegah penyebaran penyakit, BBKK Surabaya terus berkoordinasi dengan Kemenkes serta Dinas Kesehatan setempat guna memperkuat sistem surveilans ILI/SARI di puskesmas dan rumah sakit.
Langkah ini difokuskan pada wilayah dengan mobilitas tinggi dan kedekatan geografis dengan Malaysia.
“Petugas kami setiap saat memantau dan mencatat pelaku perjalanan, lalu melaporkannya melalui SKDR. Pemerintah pusat dan daerah bisa langsung mengakses data tersebut,” tambah Rosidi.
Jika ditemukan pelaku perjalanan dengan gejala penyakit menular, BBKK akan melakukan pemeriksaan, pengambilan sampel, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan.
“Dalam kondisi seperti itu, kami juga akan melakukan notifikasi ke daerah,” tegasnya.
Vaksinasi dan Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Rosidi menegaskan bahwa siapa pun bisa terserang influenza, tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing.
Kelompok yang paling rentan adalah lansia, anak-anak, dan individu dengan penyakit penyerta (komorbid).
Untuk itu, BBKK Surabaya terus mengedukasi masyarakat dan pelaku perjalanan melalui berbagai media seperti poster, video, dan digital signage di bandara serta pelabuhan.
Materi yang disampaikan mencakup gejala, pencegahan, penanganan, hingga isolasi mandiri.
“Informasi mengenai tren penyakit mingguan dan tips kesehatan selama perjalanan juga kami bagikan lewat akun Instagram BBKK Surabaya,” ujar Rosidi.
Sebagai salah satu site sentinel ILI, BBKK Surabaya berperan penting dalam memantau kasus influenza nasional dan global, termasuk pemetaan strain virus yang beredar.
“Semua sampel akan diperiksa di laboratorium rujukan untuk memetakan strain virusnya, sehingga bisa diketahui jika ada varian baru yang perlu diwaspadai,” jelasnya.
Rosidi menegaskan bahwa BBKK Surabaya siap menghadapi potensi kedaruratan penyakit menular. “Sarana, prasarana, dan SDM kami selalu siap jika muncul potensi wabah,” tegasnya.
Mengingat penurunan kekebalan pascapandemi Covid-19, masyarakat diimbau untuk melindungi diri melalui vaksinasi, termasuk vaksin influenza yang berlaku secara internasional.
“Untuk vaksin wajib yang sudah diatur secara jelas, kami lakukan pengawasan ketat. Sedangkan vaksin opsional terus kami promosikan melalui edukasi dan kerja sama dengan agen perjalanan,” pungkasnya.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan