Bangkalan - Kegiatan jalan sehat yang digelar di halaman rumah dinas Bupati Bangkalan, Sabtu (2/8), berubah menjadi tragedi. Seorang siswi SD, Yasinta, 11, meninggal dunia setelah tertimpa dahan pohon trembesi saat menunggu pengundian doorprize. Ironisnya, kegiatan tersebut diduga tidak dilengkapi ambulans maupun tenaga medis.
Yasinta, siswi kelas V SDN Demangan 1, mengikuti kegiatan bersama gurunya, Rani Auliani, di tengah ratusan peserta lain. Saat insiden terjadi, dahan trembesi tiba-tiba patah dan menimpa keduanya. Yasinta mengalami luka parah di bagian belakang kepala.
Karena tidak tersedia tim medis di lokasi, korban dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil pikap. Sayangnya, nyawa korban tidak tertolong. Ia mengalami pendarahan hebat dan sempat mengalami henti jantung sebelum dinyatakan meninggal dunia.
"Pendarahan di bagian kepala belakang dan saat sampai di rumah sakit sudah mengalami henti jantung," ungkap seorang petugas medis yang enggan disebutkan namanya.
Ketiadaan layanan medis dalam kegiatan publik tersebut memicu sorotan tajam. Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan menyatakan tidak pernah menerima pengajuan permintaan pengamanan medis dari pihak penyelenggara.
"Saya sudah cek, tidak ada surat masuk ke Dinkes baik secara manual maupun di aplikasi. Tidak ada permintaan bantuan ambulans atau petugas P3K," ujar Kepala Dinas Kesehatan Bangkalan, Nur Hotibah, Minggu (3/8).
Ia menjelaskan bahwa setiap penyelenggaraan kegiatan skala besar harus didahului pengajuan tertulis kepada Dinkes, yang kemudian diteruskan ke Public Safety Center (PSC) atau puskesmas terkait.
"Setiap ada kegiatan besar, biasanya kami menerima pengajuan dulu. Baru kami kirim tim medis dari 22 puskesmas yang ada," jelasnya.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop Umdag) Bangkalan, Achmad Siddik, menegaskan bahwa acara tersebut bukan diselenggarakan oleh dinasnya, melainkan oleh Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Bangkalan.
"Mohon maaf, pelaksananya bukan kami. Silakan konfirmasi ke Pak Yoyok (Ishak Sudibyo)," ujarnya.
Namun hingga berita ini diterbitkan, Ketua Dekopinda Bangkalan, Ishak Sudibyo, belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi dari media melalui sambungan telepon juga belum direspons.
Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan publik. Banyak pihak mempertanyakan kelalaian panitia dalam menyiapkan standar keamanan, khususnya dalam kegiatan massal yang melibatkan anak-anak. Desakan muncul agar evaluasi menyeluruh dilakukan dan prosedur keselamatan diperketat agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. (dwi/ris/fir)
Editor : M Firman Syah