Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kasus Pembunuhan Sevi Ayu Claudia Picu Tuntutan Perlindungan Kerja Bagi Driver Ojol Perempuan

Muhammad Firman Syah • Rabu, 30 Juli 2025 | 00:43 WIB
Kematian tragis Sevi Ayu Claudia, seorang pengemudi ojek online (ojol) perempuan yang ditemukan dalam kardus di pinggir jalan, memicu gelombang keresahan di kalangan komunitas driver perempuan.
Kematian tragis Sevi Ayu Claudia, seorang pengemudi ojek online (ojol) perempuan yang ditemukan dalam kardus di pinggir jalan, memicu gelombang keresahan di kalangan komunitas driver perempuan.

Gresik - Kematian tragis Sevi Ayu Claudia, seorang pengemudi ojek online (ojol) perempuan yang ditemukan dalam kardus di pinggir jalan, memicu gelombang keresahan di kalangan komunitas driver perempuan. Peristiwa ini menjadi simbol rapuhnya sistem perlindungan bagi pekerja informal, khususnya perempuan yang bekerja di sektor transportasi berbasis aplikasi.

Nama Sevi kini menjadi topik utama dalam grup WhatsApp komunitas ojol perempuan. Sevi dikenal sebagai pengemudi yang bekerja mandiri, bertahan hidup dari penghasilan di aplikasi, dan aktif dalam komunitas.

"Kami sering dihubungi untuk order fiktif, kadang diminta kirim makanan ke lokasi sepi. Tapi sekarang? Rasanya semua permintaan jadi mencurigakan," ujar salah satu rekan Sevi yang juga mitra ojol.

Minimnya sistem keamanan dalam kerja berbasis aplikasi menjadi perhatian utama. Para pengemudi tidak memiliki tempat kerja tetap, tidak ada pelatihan keamanan dasar, dan tidak tersedia protokol khusus untuk menangani pesanan offline yang berisiko. Hal ini membuat relasi pribadi sekalipun bisa menjadi celah kekerasan.

"Pelaku mengaku pernah mengenal Sevi dan merasa ditipu. Tapi hubungan personal itu terjadi karena sistem kerja kita yang membuat kami harus terbuka terhadap siapa saja," ungkap seorang pengemudi perempuan.

Komunitas driver perempuan mulai menginisiasi langkah-langkah internal. Mereka menggelar pertemuan darurat, menyusun daftar nomor darurat, dan membangun sistem pelacakan rekan satu komunitas. Dorongan kepada pemerintah untuk turun tangan semakin menguat, termasuk permintaan pelatihan keamanan, kerja sama kepolisian, serta fitur panik di aplikasi.

“Sevi bukan korban pertama. Tapi ini pertama kalinya kami merasa betul-betul bisa jadi sasaran siapa saja, terutama karena kami perempuan,” ujar driver ojol lainnya.

Motif pelaku, yang mengaku sakit hati karena janji bantuan menjadi PNS tidak terealisasi, turut menjadi sorotan. Dalam komunitas ojol, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, janji semacam itu masih dianggap peluang sah. Namun, kekecewaan yang tak tersalurkan bisa berujung fatal.

Pemerintah daerah saat ini masih terfokus pada proses hukum. Namun, komunitas meminta perhatian lebih terhadap aspek perlindungan sosial dan ketenagakerjaan informal.

"Kalau kami meninggal di jalan, siapa yang bertanggung jawab? Aplikasi? Negara? Atau hanya berita satu hari yang dilupakan esoknya?" kata salah satu pengemudi ojol perempuan.

Penangkapan pelaku SR, 36, oleh pihak kepolisian disambut baik, namun di sisi lain memperkuat tuntutan agar pemerintah dan penyedia layanan aplikasi memberikan perlindungan nyata, bukan hanya algoritma.

Kasus ini memperlihatkan bahwa sistem kerja digital belum sepenuhnya memadai dalam melindungi pekerja dari risiko kekerasan, terutama bagi perempuan yang bekerja sendiri di ruang publik. (mel/gab/fir)

Editor : M Firman Syah
#ojol perempuan #pembunuhan berencana #Sevi Ayu Claudia #pembunhan #gresik