RADAR SURABAYA – Empat Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) di Jawa Timur ditunjuk menjadi percontohan program penguatan desa produktif untuk mendukung ketahanan pangan dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini merupakan hasil kolaborasi Yayasan Kita Indonesia Penggerak (KIP Foundation) dengan Sampoerna untuk Indonesia, didukung Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Empat BUMDesa tersebut adalah BUMDesa Ardiles Ardimulyo di Kabupaten Malang, BUMDesa Ngudi Sejahtera di Kabupaten Tulungagung, BUMDesa Sendang Drajat Canggu di Kabupaten Kediri, dan BUMDesa Tim Pejuang Kemajuan di Kabupaten Ngawi. Keempatnya dipilih karena dinilai aktif dan punya potensi besar di sektor pertanian, perikanan, serta peternakan.
Founder KIP Foundation, Dwi Ariady Kusuma, mengatakan program ini dijalankan mulai Januari hingga Juni 2025, menyasar pengelola BUMDesa, perangkat desa, hingga masyarakat.
“Program ini mendukung kebijakan nasional yang mengalokasikan minimal 20 persen Dana Desa untuk ketahanan pangan dan sejalan dengan program prioritas pemerintah, yaitu Makan Bergizi Gratis,” jelasnya, Senin (21/7).
Di level provinsi, program ini juga mendukung misi Nawa Bhakti Satya melalui program Jawa Timur Daulat Pangan dan Klinik BUMDesa. Program ini memiliki tiga pilar utama: pelatihan dan pendampingan intensif, dukungan infrastruktur kawasan inovasi pangan, serta produksi konten digital untuk branding dan akses pasar.
Ari menegaskan BUMDesa punya potensi besar sebagai garda terdepan dalam sistem pangan nasional. “Desa punya lahan, SDM, budaya gotong royong, dan potensi lokal. Mereka hanya perlu akses dan sistem pendukung yang tepat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penguatan BUMDesa bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan gerakan sosial untuk kedaulatan pangan rakyat. “Ketika desa berdaulat atas pangannya, mereka juga berdaulat atas masa depan ekonominya,” tandasnya.
Program ini diharapkan meningkatkan produktivitas usaha pangan desa, membuka lapangan kerja, mendukung MBG, dan menjadi model nasional dalam ketahanan pangan berbasis BUMDesa. (*)
Editor : Lambertus Hurek