RADAR SURABAYA - Musim bediding, yang biasanya berlangsung pada bulan Juni hingga Agustus, merupakan fenomena cuaca khas di sebagian besar wilayah Jawa Timur.
Pada masa ini, suhu udara turun drastis akibat aliran massa udara dingin dari Australia yang melewati wilayah Indonesia.
Kondisi ini membawa hawa sejuk hingga dingin ekstrem terutama di daerah dataran tinggi.
Inilah 5 daerah di Jawa Timur yang tercatat memiliki suhu paling dingin selama musim bediding, disertai faktor-faktor yang memengaruhinya.
5 Daerah dengan Suhu Terdingin di Jawa Timur
1. Batu, Kota Wisata Berhawa Sejuk
- Suhu terendah: 11–14°C
- Faktor: Terletak di ketinggian sekitar 700–1.200 mdpl, dikelilingi pegunungan seperti Arjuno dan Panderman.
- Kondisi: Udara sangat sejuk, sering berkabut saat malam dan dini hari.
2. Dataran Tinggi Dieng Wilayah Timur (Sekitar Wonosari, Pasuruan)
- Suhu terendah: 12–15°C
- Faktor: Wilayah pegunungan dan hutan pinus dengan kelembapan rendah saat musim kemarau.
- Kondisi: Terasa sangat dingin pada malam hari dan pagi buta.
3. Senduro, Kabupaten Lumajang
- Suhu terendah: 13–15°C
- Faktor: Berada di kaki Gunung Semeru dengan lanskap hutan dan perbukitan.
- Kondisi: Suhu menyentuh level sangat dingin terutama saat puncak musim kemarau.
4. Tlogosari, Bondowoso (Pegunungan Ijen Timur)
- Suhu terendah: 14–16°C
- Faktor: Ketinggian wilayah dan vegetasi hijau di lereng Gunung Ijen membuat suhu menjadi lebih rendah.
- Kondisi: Cocok untuk agrowisata, tetapi memerlukan pakaian hangat saat pagi hari.
5. Cisadane, Kabupaten Probolinggo (wilayah Bromo Utara)
- Suhu terendah: 10–13°C
- Faktor: Kedekatan dengan Gunung Bromo dan ketinggian lebih dari 1.600 mdpl.
- Kondisi: Sering mengalami embun beku atau frost ringan selama musim bediding.
Wilayah-wilayah dataran tinggi di Jawa Timur menjadi pusat udara dingin selama musim bediding.
Faktor utama seperti ketinggian, kelembapan rendah, dan lokasi geografis menjadi penentu turunnya suhu ekstrem.
Bagi masyarakat maupun wisatawan, memahami pola cuaca ini penting untuk mempersiapkan diri menghadapi hawa dingin dan menjaga kesehatan. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari