Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Hingga April 2025, Angka DBD di Jatim Mencapai 9.437 Kasus

Mus Purmadani • Minggu, 18 Mei 2025 | 03:19 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr. Erwin Astha Triyono
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr. Erwin Astha Triyono

RADAR SURABAYA - Data Dinas Kesehatan Jawa Timur menunjukkan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)pada bulan Januari - April 2025 sebanyak 9.437 kasus dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,57 persen.

Jumlah kasus tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah kasus per April 2024 yaitu sebanyak 14.634 kasus.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr. Erwin Astha Triyono, Sabtu (17/5).

Menurutnya meski trennya menurun, namun harus tetap waspada dan mengantisipasi kenaikan kasus DBD.

"Karena DBD ini menyerang di semua kelompok umur, dewasa hingga anak-anak dengan tingkat kematian tertinggi terjadi pada anak,” ungkapnya.

Erwin mengimbau masyarakat untuk tetap memasifkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untukmencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit DBD.

Dia juga mengimbau agar masyarakat bisa lebih waspada melalui Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik, minimal satu minggu sekali.

"Dengan terus memasifkan gerakan PSN, harapannya peran serta dan pemberdayaan masyarakat untuk memberantas DBD bisa ditingkatkan. Perannya bisa dengan melakukan pemeriksaan, pemantauan, pemberantasan jentik nyamuk DBD yang jadi sumber penyebaran utama dengan melibatkan seluruh anggota keluarga," katanya.

Kegiatan PSN dapat dilakukan dengan 3M Plus, yaitu pertama dengan menguras atau membersihkan tempat penampung air seperti bak mandi, vas bunga, tempat minum binatang peliharaan, tatakan dispenser.

Yang kedua dengan menutup rapat Tempat Penampungan Air (TPA).

Dia mengatakan faktor penyebab infeksi dengue adalah nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Dimana karakteristik perindukan telur - jentik - pupa aedes adalah di tempat bermuatan air jernih yang dindingnya tidak bersentuhan langsung dengan tanah.

Jika tempat penampungan air tidak memungkinkan dikuras atau ditutup, maka bisa diberikan larvasida.

“Langkah ketiga adalah menyingkirkan atau memanfaatkan serta mendaur ulang barang bekas seperti ban bekas, botol plastik, kaleng bekas. Dan, Plus yang paling penting adalah menghindari gigitan nyamuk,” ujar Erwin

Erwin menambahkan, untuk menghindari gigitan nyamuk bisa dengan memakai kelambu, anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, menaburkan larvasida, dan memasang perangkap telur (ovitrap), perangkap jentik (larvitrap) dan perangkap nyamuk (mosquitotrap).

Bahkan, bisa dengan mengolah tanaman pengusir nyamuk seperti sereh, zodia dan lain sebagainya.

Selain Sosialisasi PSN 3M Plus, upaya lain yang juga populer di masyarakat adalah Teknik fogging atau pengasapan. Fogging bertujuan untuk membunuh nyamuk dewasa yang dilakukan saat terjadi penularan di suatu daerah.

Lebih lanjut Erwin juga mengingatkan bahwa fogging bukan merupakan langkah utama dalam memberantas nyamuk.

Pelaksanaan fogging harus dilakukan sejalan dengan PSN secara rutin di suatu lingkungan guna hasil yang efektif dan maksimal.

Erwin menekankan bahwa upaya pemberantasan DBD tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan peran serta seluruh masyarakat yang juga berkolaborasi dengan RT/RW, TP-PKK hingga Karang Taruna untuk menggalakkan Gerakan PSN hingga ke rumah-rumah.

"Maka dari itu, ayo kita jaga terus kebersihan diri dan lingkungan. Lindungi diri kita, lindungi keluarga kita, lindungi sekitar kita," imbaunya.

Sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit DBD, Pemprov Jatim telah melakukan berbagai upaya.

Di antaranya dengan mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 440/6277/012/2024 tentang Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus dan Kematian Akibat Penyakit Infeksi Dengue (DBD).

Selain itu, Dinkes Jatim juga telah membuat Surat Edaran Nomor 400.7/16383/102.3/2024 tentang Kewaspadaan Penyakit Musim Hujan untuk disampaikan kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan daerah di wilayah Jawa Timur.

“Kami juga telah melakukan KIE dan promosi kesehatan terntang penyakit DBD melalui media sosial, melaksanakan webinar DBD dengan sasaran TP PKK, ormas dan SBH serta rapat koordinasi dengan lintas program, lintas sektor dan Dinkes kab/kota dalam pengendalian DBD di Jatim,” jelasnya.

Erwin mengingatkan kembali bahwa perilaku nyamuk aedes adalah menggigit di pagi dan sore hari.

Akan tetapi dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini, sangat dimungkinkan terjadi perubahan waktu menggigitnya juga.

Jadi kewaspadaan terhadap DBD harus ditingkatkan.

"Jika ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi yang mendadak, terus menerus, berlangsung 2-7 hari segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Ancaman terjadi syok dan perdarahan terkadang muncul pada hari ketiga s.d kelima saat demam sudah turun. Oleh karena itu, segera periksakan anggota keluarga yang memiliki gejala DBD," ujarnya.

"Semakin cepat pertolongan akan semakin baik. Terapi DBD yg terbaik saat ini adalah terapi cairan yang cukup dan monitoring ketat klinis dan laboratorium pasien di faskes," pungkasnya. (mus/opi)

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#dinas kesehatan jatim #April 2025 #kasus #angka #Case Fatality Rate #demam berdarah dangue #Erwin Astha Triyono #nyamuk #dbd