Manyar – Jalanan Betoyo, Kecamatan Manyar penuh sesak dengan para penonton balap liar amatir. Beberapa joki kuda besi lokal bersiap-siap untuk menggeber motornya. Bukan di sirkuit resmi, bukan pula di MotoGP, tapi di aspal kampung yang jadi ajang balap liar. Gas digeber, suara knalpot berisik memecah keheningan. Tapi, euforia itu tak berlangsung lama. Polisi datang lebih cepat dari pit stop F1.
Dalam hitungan menit, puluhan remaja panik, mesin mati, dan kaki gemetar. Sayangnya, tak ada yang cukup cepat untuk menghindari pasukan Raimas Kalamunyeng Sat Samapta Polres Gresik yang datang seperti safety car di tengah balapan. Hasilnya? Bukannya pulang bawa piala, mereka justru naik truk polisi.
Dari operasi ini, polisi berhasil mengamankan 54 pemuda dan 33 motor, termasuk beberapa pelajar SMP dan SMA yang mungkin tadinya cuma niat ngabuburit tapi malah ketilang berjamaah. Ada juga pekerja swasta yang entah bagaimana caranya masih sempat ikut balap liar setelah kerja.
Baca Juga: Sirkuit Mandalika NTB Diperbarui untuk Ajang Balap Internasional, Targetkan Homologasi FIA Grade 3
Menurut Kasat Samapta Polres Gresik, AKP Heri Nugroho, para atlet balap ilegal ini janjian lewat WhatsApp buat adu kecepatan antara dua klub, SRC.GTR dari Gresik dan Omahan dari Lamongan. Ternyata, bukan cuma warga lokal yang ikut, tapi juga ada dari Lamongan 22 orang dan warga Bojonegoro. Nah, yang dari Bojonegoro ini, entah kebawa arus atau memang niat studi banding ke Gresik.
"Kami langsung bergerak setelah menerima laporan warga. Sesampainya di lokasi, mereka kami bubarkan, dan kami amankan sekitar pukul 02.00 WIB," ungkap AKP Heri Nugroho.
Yang membuat miris, kejadian ini berlangsung di bulan Ramadan. Bukannya ngabuburit dengan cara yang lebih aman, mereka malah memilih jadi Marc Márquez KW di jalanan umum. Kalau saja mereka sekalian lomba tarik tambang atau balap karung, mungkin polisi justru kasih medali, bukan surat tilang.
Kepada media, Kapolres Gresik, AKBP Rovan Richard Mahenu, menegaskan bahwa patroli akan terus ditingkatkan.
"Kami imbau masyarakat, terutama orang tua, untuk lebih memperhatikan anak-anaknya agar tidak terlibat dalam kegiatan yang membahayakan nyawa sendiri dan orang lain," tegasnya.
Dari kejadian ini, ada satu pelajaran penting: kalau memang bercita-cita jadi pembalap, latihanlah di tempat yang benar. Jangan di jalanan kampung, jangan pula ngarep bisa kabur dari polisi yang sudah pengalaman ngejar orang yang lebih profesional.
Editor : M Firman Syah