Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kabar Baik, 24 Macan Tutul Jawa Terekam Kamera di Wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Jay Wijayanto • Kamis, 30 Januari 2025 | 00:23 WIB
Seekor macan tutul Jawa jenis hitam atau kumbang di hutan TNBTS tertangkap kamera pengintai.
Seekor macan tutul Jawa jenis hitam atau kumbang di hutan TNBTS tertangkap kamera pengintai.

RADAR SURABAYA-Puluhan satwa liar Pantera pardus melas atau biasa disebut dengan macan tutul Jawa baru baru ini dikabarkan terekam kamera di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Hal tersebut menjadi kabar baik karena dapat dijadikan sebagai indikator bahwa TNBTS memiliki habitat yang baik dan terlindungi.

Macan tutul Jawa sendiri merupakan salah satu satwa yang masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2007, serta dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 

Penangkapan gambar yang dilakukan terhadap macan tutul Jawa di wilayah TNBTS sendiri sudah dilakukan sejak akhir 2024 dengan memasang kamera pengintai setidaknya di 40 titik dengan tujuan untuk memantau populasi satwa langka endemik Gunung Bromo Tengger Semeru. 

Pemilihan lokasi pemasangan kamera ini mencakup empat kilometer persegi di jalur jelajah satwa yang didasari oleh tanda alami seperti dari jejak kaki dan bekas cakaran yang ditemukan. Aktivitas perekaman ini dilakukan kurang lebih selama 90 hari lamanya. 

“Ada 40 unit kamera yang kita pasang pada Desember kemarin. Pemasangan mencakup area kurang lebih 2x2 KM,” ujar Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha kepada wartawan. 

Menurut Rudijanta, penemuan macan tutul Jawa tersebut diperkirakan mencapai 24 ekor yang didominasi oleh jenis hitam atau macan kumbang. Namun, angka temuan tersebut masih belum bisa dipastikan keakuratannya. 

“24 itu baru hitungan kasar, belum diyakini kebenarannya. 24 itu dilihat dari berbagai lokasi dan diperkirakan berbeda,” sambung Rudijanta. 

Ia juga menyebutkan, penyebab dari dominasi macan tutul jenis hitam atau macan kumbang ini dikarenakan habitatnya di hutan kawasan Semeru Bromo telah terisolasi dalam waktu yang cukup lama.

Hal tersebut membuat variasi genetik macan di sekittar kawasan TNBTS terbilang cukup rendah, karena tidak ada pertambahan genetik dari populasi macan tutul lainnya.

Rudijanta juga memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tidak panik dan tetap ikut menjaga satwa yang ada di sekitar wilayah TNBTS.

Walau angkanya terbilang cukup stabil, namun ancaman perburuan liar, perubahan habitat akibat kerusakan lingkungan, serta berkurangnya ketersediaan pangan tetap menjadi momok menakutkan bagi populasi macan tutul Jawa. (kum/jay) 

Editor : Jay Wijayanto
#taman nasional bromo tengger semeru #satwa liar #Macan Tutul Jawa