Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Viral! Suami Istri Gendong Balita Nekat Jalan Kaki 14 Hari dari Semarang ke Banyuwangi Demi Mencari Ini, Beruntung Ketemu Polisi Baik

Jay Wijayanto • Kamis, 19 Desember 2024 | 23:13 WIB
Pasutri Sugiarto dan Titik serta anak balitanya yang nekat jalan kaki dari Semarang ke Banyuwangi demi mencari pekerjaan bertemu dengan Ipda Purnomo dari Polres Lamongan.
Pasutri Sugiarto dan Titik serta anak balitanya yang nekat jalan kaki dari Semarang ke Banyuwangi demi mencari pekerjaan bertemu dengan Ipda Purnomo dari Polres Lamongan.

RADAR SURABAYA – Sepasang suami istri yang menggendong anak balita berumur 18 bulan secara bergantian nekat melakukan perjalanan selama 14 hari dari Semarang ke Banyuwangi bermodal jalan kaki.

Sesampainya di Lamongan pada Rabu (18/12) siang, mereka bertemu seorang polisi yang membantu memberikan ongkos perjalanan dan keperluan lainnya selama di perjalanan.

Sugiarto, 43, merupakan warga Desa Ketapang, Kalipuro, Banyuwangi, yang sebelumnya merantau ke Karawang, tempat asal sang istri yang bernama Tutik.

Sebelumnya, Sugiarto berprofesi sebagai sopir truk. Namun karena penghasilannya yang tidak cukup, ia nekat berjalan kaki dari Semarang ke Banyuwangi untuk mencari pekerjaan baru.

Kisah Sugiarto dan Tutik ini diunggah oleh Ipda Purnomo, seorang polisi yang bertugas di Sat Binmas Polres Lamongan yang dikenal dengan sebutan ‘Polisi baik’ di media sosial. Video pertemuan itu diunggah melalui konten YouTubenya di akun @PURNOMOBELAJARBAIK, Rabu (18/12).

Video itu diunggah dengan judul ‘SUAMI ISTRI GANTIAN GENDONG B@LITA .14 HARI TERLANTAR DIJALANAN.NEKAT JALAN KAKI TIDAK PUNYA ONGKOS’.

Dalam videonya, Ipda Purnomo bertemu Sugiarto yang nampak berjalan dengan barang bawaan yang cukup banyak dan istrinya Tutik yang menggendong seorang balita.

“Sampean 14 hari jalan kaki dari Semarang enggak ada orang yang nolong?,” tanya Ipda Purnomo dalam video.

Sugiarto pun menjawab jika ada seseorang yang sempat memberikan mereka uang Rp50ribu. Namun saat akan naik bus, uang tersebut kurang. Sehingga, keluarga kecil itu kembali berjalan kaki dengan tujuan Banyuwangi.

“Niki wae wonten sing nyukani seket. Ngoten niku kulo ajeng nitip bus bagong, wine kurang, (ini tadi ada yang memberikan uang Rp50ribu, maunya ikut bus bagong tapi ternyata uangnya kurang),” cerita Sugiarto.

Ipda Purnomo kemudian mengajak mereka mengobrol seraya memberikan sejumlah uang. Saat ditawari untuk dipesankan mobil, Sugiarto dan Tutik menolak karena berniat mampir ke Surabaya untuk mencari pekerjaan.

Ia mengaku sebelum ini bekerja sebagai sopir namun terlibat masalah keluarga. “Niki waune ajenge mampir suroboyo ngoten, ajeng ningali pendamelan (Ini tadi mau mampir ke Surabaya dulu, mau cari kerjaan),” tambahnya.

Selanjutnya, Sugiarto menceritakan jika sebenarnya dulu waktu ia pergi dari Banyuwangi, kota asalnya, karena suatu masalah. Sehingga, saat ini dia masih ragu-ragu untuk pulang.

Seandainya keluarga tidak mau menerimanya, ia berniat pergi ke saudara di Bali untuk mencari pekerjaan.

Mboten pak, kulo ngebis mawon pak. Kulo kan medal saking Banyuwangi nggih wonten problem. Kulo kan tasih unda-undi wangsul teng Banyuwangi niki. Yen umpamane saget kulo teng Banyuwangi nggih mriku, yen mboten kulo kan gadah derek teng bali, menawi saget nyukani pendamelan (Tidak pak, saya naik bis saja. Saya pergi dari Banyuwangi ya karena ada masalah. Saya sekarang masih ragu-ragu mau pulang ke Banyuwangi. Kalau bisa ya saya ke Banyuwangi, kalau tidak ya saya kan ada saudara di Bali, kalau bisa cari pekerjaan),” ungkap Sugiarto.

Selama di perjalanan berharinya-harinya, keluarga Sugiarto bermalam dan istirahat di masjid. Untungnya, sang anak yang masih balita itu masih minum ASI ibunya, sehingga sedikit meringankan beban mereka. Sugiarto sebelumnya telah memperkirakan jika perjalanan akan berakhir selama 20 hari.

Akhirnya, Ipda Purnomo memberikan sejumlah uang dan mengantar Sugiarto sekeluarga ke Terminal Purabaya Surabaya untuk naik bis ke Banyuwangi.

Sugiarto harus menghubunginya setelah sampai di Banyuwangi, karena Ipda Purnomo ingin mengenalkan Sugiarto ke temannya untuk dibantu mencari pekerjaan.

“Nanti jenengan saya kasih nomor WA saya, sampai Banyuwangi hubungi saya. Mudah-mudahan teman saya bisa bantu,” kata Ipda Purnomo.

Tutik mengungkapkan, ia mau diajak Sugiarto berjalan kaki berhari-hari murni karena baktinya sebagai seorang istri. Tutik mengaku mengerti jika saat ini kondisi mereka sedang dalam kesusahan.

“Mas Sugiarto ini kerja di Karawang, dia pulang ke Banyuwangi karena ada masalah keluarga, karena mas Sugiarto kerja sendirian keluarganya banyak, sehingga dia ngajak isterinya sama anaknya pulang ke Banyuwangi untuk cari kerja,” tambahnya.

Video cuplikan kisah Sugiarto dan Tutik ini diunggah kembali di berbagai media sosial, salah satunya di akun Instagram @bwi.info pada Rabu (18/12). Videonya spontan viral hingga telah ditonton sebanyak 605 ribu pengguna dengan ratusan komentar dari warganet.

“Jateng emg UMR murah, semoga pulang ke bwi bpk dan ibu bisa tambah lancar rejekinya, semoga pak pur selalu jadi polisi yg bermanfaat bagi masyarakat,” tulis @fit***

“Polisi seng apik iki gur pak pur tok pantese,” @bay***

“Ya allaaahh, udh 14 hari jalaaann bawa baby umur 18bulan... Gbsa bayangi capeenyaa. Adeknya jg alhamdulillah seeehaaat,” @yun*** (ang/jay)

 

Editor : Jay Wijayanto
#semarang #jalan kaki #banyuwangi #perjalanan #suami istri #ipda purnomo