Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

1,2 Persen Pegawai Swasta dan 0,7 Persen PNS/TNI/Polri Mengalami Masalah Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja, Apa Penyebabnya?

Mus Purmadani • Senin, 21 Oktober 2024 | 01:45 WIB
Ilustrasi depresi.
Ilustrasi depresi.

RADAR SURABAYA - Masalah kesehatan mental baik di kalangan remaja, anak muda, hingga para pekerja patut menjadi perhatian.

Penjabat (Pj.) Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur Isye Adhy Karyono mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.

Sebab, keduanya saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.

Dengan kesehatan mental yang baik, maka akan mempengaruhi kesehatan fisik yang baik pula.

"Hal ini tentunya masyarakat harus tahu. Tidak hanya sebatas penyintas atau yang ada di dekat RSJ Menur, tapi masyarakat secara luas harus lebih paham akan pentingnya kesehatan mental," tutur Isye saat menghadiri Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) di Graha RS Jiwa Menur Surabaya, Jumat (18/10).

Oleh sebab itu, Isye menekankan agar dilakukan sosialisasi dan edukasi lebih kepada masyarakat terkait pentingnya kesehatan mental.

Harapannya masyarakat tidak tabu atau bahkan menjadi stigma buruk lagi di masyarakat.

"Jadi ketika ada yang berobat ke RSJ, tidak kemudian dicap bahwa dia gila atau ODGJ," tegasnya.

Hal ini mengingat bahwa terdapat berbagai macam isu terkait kesehatan mental seperti stres atau depresi yang bisa mengganggu kehidupan sehari-hari bagi seseorang.

Sehingga, perlu penanganan lebih lanjut dari profesional seperti psikiater atau semacamnya.

Kesehatan mental, disebut Isye Adhy Karyono juga penting di dalam lingkungan kerja.

Hal ini sesuai dengan tema besar HKJS 2024 yaitu Saatnya prioritaskan Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja.

Berdasakan Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023, sebanyak 1,2 persen pegawai swasta dan 0,7 persen PNS/TNI/Polri/BUMN/BUMD mengalami masalah kesehatan jiwa.

Oleh karena itu, ia menekankan untuk memprioritaskan kesehatan mental di tempat kerja dengan menjadikan tempat kerja yang sehat secara mental sehingga karyawan mampu meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kesejahteraan. 

“Ketika dunia kerja tidak kondusif, tidak hanya produktivitas berkurang tapi seluruh sisi kehidupan juga akan terganggu. Saya rasa penting juga ada intervensi dari RSJ Menur ke masing-masing OPD Pemprov Jatim untuk meelakukan pengecekan terhadap kesehatan mental para pegawai,” ungkapnya.

Isye juga mengingatkan bahwa kesehatan mental bukan hanya milik orang dewasa.

Berdasarkan data yang dihimpun RSJ Menur, kelainan mental tercatat masuk ke dalam 10 besar beban kesehatan berdasarkan kelompok usia.

Dimana pada kelompok remaja menempati posisi tertinggi diantara kelompok usia lainnya dan berada di urutan ke-2 diantara penyakit lain.

Oleh sebab itu, upaya penanganan isu Kesehatan mental di Masyarakat diharapkan bisa menjadi fokus semua elemen dan usia.

“Karena kesehatan mental bukan tanggung jawab psikiater, psikolog, Dinas Kesehatan dan rumah sakit saja, namun merupakan tanggung jawab kita bersama,” jelasnya.

Senada dengan Pj. Ketua TP PKK Jatim, Direktur Utama RSJ Menur drg Vitria Dewi mengatakan bahwa kesehatan mental sama pentingnya sama dengan kesehatan fisik.

Sebagai salah satu pusat kesehatan jiwa terbesar di Jawa Timur, ia menegaskan posisi penting RSJ Menur dalam upaya memperjuangkan dan menjaga kesehatan mental masyarakat.

Ia menyebut, dari total hampir 390 bed untuk pasien kesehatan jiwa, 350 diantaranya sudah penuh.

Bahkan setiap harinya, terdapat kasus upaya bunuh diri yang diterima RSJ Menur.

Hal ini menandakan kesadaran dan kepercayaan masyarakat untuk penanganan isu kesehatan mental semakin meningkat.

"Kesehatan Mental adalah kewajiban kita semua  There's no health without mental health," pungkasnya. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#pegawai swasta #odgj #rsj menur #depresi #kesehatan mental #pns #pekerja