RADAR SURABAYA – Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur semester II tahun 2024 tumbuh 4,98 persen year on year (yoy).
Meskipun menurutnya pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ini yang paling tinggi di antara Pulau Jawa, namun ada yang harus diwaspadai.
“Waspada itu karena dalam lima bulan ini kita mengalami deflasi. Itu tidak berarti bahwa kemampuan daya beli masyarakat turun. Akan tetapi karena sebenarnya terjadi adalah bagaimana turunnya harga volatile food (komoditas pangan yang bergejolak) karena memang produksinya berlimpah tapi harganya rendah,” ujar Adhy pada Peringatan Hari Pangan Sedunia ke-44 di Jatim Internasional Expo Convention Exhibition, Surabaya, Rabu (16/10).
Adhy menambahkan produksi pertanian, perkebunan dan juga hewani surplus bisa menopang provinsi lain di nasional. Sehingga sampai saat ini kukuh sebagai lumbung pangan nasional.
“Kami mengaku optimis hingga Desember masih bisa bertahan dengan kondisi (berlimpah) seperti ini,” katanya.
Menurutnya capaian produksi padi di tahun 2023 sebesar 9,71 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan beras sebesar 5,6 juta ton.
Tahun 2023 produksi beras Jatim juga surplus sebesar 2,5 juta ton, sehingga mampu memenuhi kebutuhan 20 provinsi lain di Indonesia.
“Ini berkat kerja keras dan inovasi para petani, sehingga kita dapat menjaga pasokan pangan tetap stabil,” jelasnya.
Adhy menuturkan, untuk menghadapi ancaman krisis pangan global perlu dilakukan beberapa langkah diantaranya meningkatkan diversifikasi pangan, melestarikan alam sebagai land of harmony, sistem pertanian berkelanjutan yang inovatif dan kreatif, pengembangan pertanian berbasis keluarga berkelanjutan.
“Kita juga harus memasifkan gerakan panganku B2SA (beragam, bergizi, seimbang dan aman), serta menggiatkan gerakan zero waste dan meminimalkan losses serta food waste,” tuturnya.
Kepada para PJ dan PJs Bupati Wali Kota se-Jatim, Adhy berpesan agar menangani masalah pangan secara terpadu.
Sedangkan untuk akademisi dan ahli dari berbagai perguruan tinggi ia berpesan agar aktif melakukan riset dan pengembangan tentang peningkatan produksi dan produktifitas, seperti penemuan bibit unggul.
“Bersama-sama mari kita upayakan yang terbaik, kita bangun sinergi dan kolaborasi untuk mengatasi dan mengantisipasi permasalahan pangan,” katanya
Sementara itu, Plt Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sarwo Edhy menyampaikan, Jawa Timur sebagai sentra pangan nasional diharapkan mampu melakukan berbagai hal yang berkaitan dengan upaya ketahanan pangan.
Diantaranya penguatan terhadap ketersediaan pangan, dapat memastikan adanya pasokan dan stabilisasi harga.
Kemudian telah melakukan industri pangan yang bersumber dari karbohidrat, memastikan seluruh pangan yang beredar itu dijamin keamanannya layak untuk dikonsumsi, dan melakukan langkah-langkah konstruktif untuk menyelesaikan stunting dan daerah-daerah rawan pangan.
“Kami melihat dengan pak gubernur tadi, Jawa Timur luar biasa telah melakukan industri pangan yang bersumber dari karbohidrat, jadi ini sangat penting karena ke depan kenyang itu tidak harus nasi, sehingga UMKM harus kita gerakkan untuk melakukan industri pangan,” jelasnya.
“Kita tahu Indonesia itu memiliki lebih kurang 73 komoditas yang bersumber dari karbohidrat yang memang harus kita oleh sebagai pangan alternatif pengganti beras, jadi ini sangat baik sekali,” pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari