RADAR SURABAYA – Erupsi Gunung Semeru pada 4 Desember 2021 menyisakan trauma bagi warga Kecamatan Candipuro dan Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, yang terdampak langsung bencana awan panas guguran (APG).
Seperti yang dialami Samsul Arifin, warga hunian tetap (Huntap) Bumi Semeru Damai (BSD) di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.
Sudah sekitar 2 tahun lebih pria berusia 40 tahun ini tinggal di Huntap bersama istri dan 3 anaknya.
Sebelum terjadi bencana erupsi Gunung Semeru, Samsul dan keluarganya merupakan warga Dusun Curah Kobokan, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Pronojiwo.
Bencana erupsi Gunung Semeru tahun 2021 adalah yang paling mencekam selama hidupnya. “Karena saat itu tidak ada tanda apa-apa sebelumnya,” ungkap Samsul sembari menghisap rokoknya dalam-dalam.
Sebelum kejadian Gunung Semeru meletus pada 4 Desember 2021, sekitar pukul 13.00 WIB, Samsul pulang istirahat dari menambang pasir di sungai yang tak jauh dari rumahnya.
Rencananya, dia hendak ke rumah orang tuanya di Desa Sumbermujur, namun tidak jadi lantaran gerimis. Saat di dalam rumah menunggu hujan reda, Samsul sempat menggerutu ketika mendengar ada orang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi dan suara bising.
“Ini siapa naik motor kok kenceng sekali. Tapi gak lama kemudian, sekitar pukul 14.30 WIB, Pak Lik saya keluar rumah sambil teriak Semeru meletus. Saya sempat keluar rumah, memvideo sebentar letusan Gunung Semeru, karena saat itu belum sampai ke desa kami,” katanya.
Usai mendokumentasikan letusan Gunung Semeru, Samsul kembali masuk ke rumah. Namun seketika kondisi menjadi gelap gulita.
“Saya sempat bilang, waduh kiamat ini, saya langsung cari anak-anak dan istri saya. Satu motor kita naikin 5 orang, gak tau arah mau kemana karena kondisi jalan gelap dan jarak pandang tidak sampai 1 meter. Batuan panas kena di badan gak kita rasakan, yang penting selamat saja dulu. Tahu-tahu pas di lokasi aman, badan kami sudah melepuh semua,” ungkapnya.
Samsul mengaku memilih mengungsi ke rumah orang tuanya di Desa Sumbermujur dengan alasan lebih aman dan nyaman.
Saat mengungsi di rumah orang tuanya, Samsul mengaku mendapatkan kabar 18 warga Curah Kobokan meninggal di daerah pemukinan. Kemudian 36 orang meninggal di daerah aliran sungai yang menjadi tempat penambangan pasir.
Rupanya mengungsi di rumah saudara atau orang tua juga dilakukan korban terdampak lainnya. Seperti Saiful Bahri, warga Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro, misalnya.
“Beberapa korban yang memiliki saudara di lokasi yang aman dari bencana lebih memilih tinggal di saudaranya daripada di pengungsian. Karena kalau di rumah saudara kan lebih enak, daripada di pengungsian. Tapi bagi yang gak punya orang tua atau saudara, mereka tinggal di Balai Desa dan pengungsian,” kata Saiful yang kini juga menjadi warga Huntap BSD.
“Pasca bencana 2021 itu banyak penyintas yang menjadi relawan Desa Tanggap Bencana (Destana). Jadi meskipun ada bencana, alhamdulillah tidak ada korban, warga sudah siap mengungsi kalau Semeru mulai mengeluarkan tanda-tanda,” jelasnya.
Saiful mengatakan, rata-rata penyintas yang tinggal di BSD sejak tahun 2022. Menurutnya, para penyintas mengaku kondisi cuaca di BSD lebih dingin. Hanya saja masyarakat mengeluh dengan kondisi ekonominya yang banyak berubah.
Tak ayal, mayoritas warga yang tinggal di Huntap, jika siang hari memilih kembali ke tempat tinggal asalnya untuk bekerja sebagai petani atau penambang pasir meskipun jarak yang ditempuh sekitar 15 kilometer hingga 20 kilometer. Sore harinya, mereka kembali untuk istirahat.
“Rumah di sini kebanyakan hanya untuk tidur malam hari. Kami mau kerja apa? mau jualan gak ada modal, ternak lahannya juga terbatas. Sungkan sama tetangga sebelah. Bahkan ada yang memperbaiki rumahnya yang lama yang terkena bencana untuk melanjutkan usaha bengkel yang sudah berjalan sebelumnya,” kata Saiful.
Ia mengaku berterima kasih kepada pemerintah yang sudah memberikan Huntap bagi warga terdampak bencana. Warga yang tinggal di Huntap ini diberi surat keterangan tempat tinggal.
“Awalnya kami ragu waktu diberi tempat tinggal di relokasi ini. Kami sempat berandai-andai, jangan-jangan nanti rumahnya terbuat dari triplek. Setelah diberi sosialisasi dan ditunjukkan, ternyata alhamdulillah tembok dan bangunannya tidak asal-asalan, tata kelolanya bagus, ada penanganan sampah dan penyediaan air bersih. Terima kasih pemerintah,” katanya
Meretas Asa di Huntap BSD
Sementara itu, Abdul Rohman warga Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, yang kini menjadi warga Huntap BSD mengaku dampak erupsi Gunung Semeru pada 2021 di tempat tinggalnya tidak separah dengan di Curah Kobokan.
Dia mengaku rumah-rumah di desanya masih bisa diperbaiki. “Tapi erupsi Semeru setahun kemudian yakni 4 Desember 2022, rumah kami dan warga lainnya rata dengan pasir. Saya memutuskan mengungsi di rumah mertua di Desa Sumbermujur,” ungkapnya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) korban meninggal akibat APG Gunung Semeru mencapai 48 orang. Sedangkan korban luka yang sempat mendapatkan perawatan medis sebanyak 2.004 jiwa. Kemudian jumlah pengungsi mencapai 9.118 jiwa.
Kepala Desa Sumber Mujur, Yayuk Sri Rahayu mengatakan, Huntap dibangun oleh Kementerian Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Menurut Yayuk, sebelum dijadikan lokasi hunian penyintas, lahan di Bumi Semeru Damai dulu berupa kebun cengkeh seluas 82 hektare. Para penyintas, lanjut Yayuk, datang bertahap sejak April 2022.
“Penyintas ini berasal dari kecamatan Pronojiwo dan kecamatan Candipuro. Tapi saat ini sudah terdaftar jadi penduduk sini,” katanya.
Yayuk mengatakan, pengerjaan huntara dan huntap yang dimulai pada Januari 2022 melibatkan berbagai pihak.
Saat ini, huntara memang sudah tidak terlihat. Pasalnya, pemerintah memutuskan untuk meneruskan pembangunannya menjadi Huntap. Total pembangunan Huntap membutuhkan anggaran sekitar Rp350,55 miliar.
Ketersediaan jaringan listrik di Huntap ini merupakan bantuan dari PLN UID Jawa Timur yang mengalokasikan anggaran sebesar Rp 4,8 miliar. Aliran listrik Huntap korban APG Semeru ini disuplai dari penyulang Pronojiwo dan membutuhkan penambahan 79 tiang Tegangan Menengah (TM), 133 tiang Tegangan Rendah (TR), 3.158 kilometer sirkuit (kms) jaringan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM), jaringan Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR) sepanjang 6,447 kms serta 7 unit gardu distribusi.
Di Huntap tersedia fasilitas air, sekolah mulai TK hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Selain itu juga disediakan stadion dan kandang kambing komunal.
“Pemkab Lumajang menyiapkan kandang komunal untuk warga yang beternak kambing. Selain itu, warga juga mendapat bantuan modal dan pelatihan lain seperti menjahit atau reparasi motor. Sayangnya warga lebih memilih pekerjaan lamanya. Sehingga di sini kalau siang hari terlihat sangat sepi,” ungkapnya.
Yayuk menjelaskan dari keseluruhan 1951 KK yang menghuni di Desa Sumbermujur, hanya sekitar 700 keluarga yang menetap permanen. Sedangkan sisanya pulang pergi untuk bekerja. “Uniknya ada juga yang pulang seminggu sekali bahkan sebulan sekali,” katanya.
Menurutnya, para penyintas telah menerima SK Huntap dari pemerintah. Selain itu desa tidak bisa mencabut hak penempatan rumah yang tidak atau jarang ditinggali karena penghuninya yang bekerja di tempat asalnya.
“Kami tidak punya kewenangan untuk memaksa mereka tidak kembali bekerja di kampung asalnya,” jelasnya.
Tantangan Mata Pencaharian
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Patria Dwi Hastiadi mengakui bahwa fenomena penyintas yang jarang menempati Huntap merupakan tantangan tersendiri dalam menjadikan kawasan Desa Sumbermujur sebagai Laboratorium Bencana.
Karena di tempat lama sudah dinyatakan sebagai zona terlarang yang tidak boleh ditinggali. “Kemudian mereka kita pindahkan ke tempat baru, ternyata mereka digolongkan dalam beberapa tipe masyarakat,” katanya.
Pertama adalah penyintas yang mau dipindah ke Huntap tapi mata pencahariannya masih di tempat lama itu. Ini jumlahnya masih banyak.
Kedua adalah penyintas yang mau pindah profesi yang dulunya mungkin bengkel, buka perdagangan di tempat asal, kemudian menemukan profesi atau mata pencaharian yang baru di tempat baru.
“Kami membuat koordinator sebagai penyambung lidah antara warga dengan pemerintah. Dari sinilah akhirnya terjadi komunikasi dengan baik melalui pemerintah desa yang kemudian diteruskan ke Pemkab Lumajang. Komunikasi ini pun semakin diperluas lagi ke seluruh stakeholder dan seluruh elemen baik pemerintah daerah, provinsi, hingga pemerintah pusat,” katanya.
Kemudian terjadi kerjasama antara Pemkab Lumajang, Pemprov Jatim, pemerintah pusat melalui BNPB dan kementerian terkait membuat dokumen rencana rehabilitasi dan rekontruksi paskabencana (R3P).
“Dengan adanya R3P, maka ada langkah jelas untuk menyentuh mereka dengan berbagai macam upaya. Di antaranya dengan intervensi pelatihan, intervensi permodalan, dan lainnya,” ungkapnya.
Menurutnya, upaya relokasi penyintas bencana awan panas guguran (APG) Gunung Semeru tersebut menjadi pembelajaran yang luar biasa. “Karena hingga saat ini belum ada daerah lain yang merelokasi warganya hingga berjumlah sekitar hampir 1.951 KK,” jelasnya.
Meski demikian, Patria mengaku tidak semudah yang dibayangkan. Pasalnya, upaya relokasi sempat mendapat penolakan dari warga. Namun dengan sosialisasi yang dilakukan, Patria mengaku menemukan solusi.
“Ada win-win solution. Kesepakatan dengan seluruh warga bahwa tempat tinggal yang lama dan lahan pertanian yang lama tidak diambil alih. Sehingga sekarang banyak warga kalau pagi ketempat asalnya untuk bekerja dan baru kembali ke rumah (relokasi) pada malam hari,” jelasnya.
Patria mengungkapkan alasan kenapa warga memilih untuk bekerja di tempat asalnya ketimbang membuka usaha baru di kawasan Huntap.
“Rata-rata para penyintas ini bekerja di penambangan pasir, sekitar 60 persen. Meskipun jauh puluhan kilometer dari Huntap mereka rela karena besaran nilai penghasilannya. Kalau dihitung per harinya kuli pasir ini pendapatannya bisa mencapai Rp300.000 hingga Rp500.000. Apalagi Pasir Lumajang ini dikenal bagus kualitasnya. Nah ini kita harus memberikan pemahaman kepada warga kalau kawasan rawan bencana bukan karena semata jaraknya tapi karena ada historis, yakni menjadi jalur material aliran lahar,” katanya.
Patria mengatakan bencana erupsi Semeru paling besar tercatat sudah 2 kali yakni tahun 1977 dan tahun 2021. Dua kecamatan ini, lanjut Patria, yakni Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro ada di lembah Semeru yang setiap musim hujan membawa banjir lahar dingin.
“Untuk masyarakat yang memahami soal histori dan kebudayaan pegunungan ada di Kecamatan Senduro. Di kecamatan ini ada masyarakat Tengger, yang mungkin dulu oleh leluhurnya sudah memilih tempat yang aman dan berdamai dengan lingkungan alam sekitarnya,” katanya.
Semeru, Sang Mother of Mount Pulau Jawa
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Dadang Iqwandy mengatakan, bencana akibat erupsi Semeru menjadi bencana yang dominan di Jatim, sehingga dibutuhkan upaya mitigasi bencana pada masyarakat dan juga semua stakeholder.
“Karakter gunung Semeru berbeda dengan karakter gunung-gunung lainnya. Karakter khusus ini terjadi karena kantong magma gunung Semeru yang kecil, sehingga berpotensi terjadi erupsi setiap hari. Gunung Semeru juga punya bukaan atau mulut kawah yang ada di sebelah tenggara. Selain itu, Semeru juga tidak punya kaldera seperti Bromo, sehingga Bromo kalau erupsi laharnya tidak ke mana-mana, hanya di kalderanya. Sedangkan, Semeru bisa mengeluarkan lahar atau material,” jelasnya.
Dalam pengelolaan bencana, lanjut Dadang, kearifan lokal menjadi sangat penting. Menurutnya hal-hal yang ilmiah berhubungan dengan agama dengan budaya.
“Yang membedakan hanya perspektif. Saya belajar ini dari buku Kelud Tanpa Kemelut, ketika Semeru kemarin kami menemui sesepuh masyarakat setempat,” katanya.
“Kalau kata Mbah Rono hanya ada jalan satu-satunya mitigasi untuk gunung berapi. Masyarakat harus mengalah pergi dari daerah rawan bencana. Jika gunung bisa berbicara, maka ia akan berkata jangan tinggal di sini, ini adalah jalurku. Mbah Rono adalah mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Beliau ahli gunung di Indonesia yang tidak hanya secara ilmiah memahami karakteristik gunung, tetapi juga secara spiritual,” imbuhnya.
Bagi Dadang, dalam melakukan penanganan bencana, dirinya selalu menemui sesepuh masyarakat setempat. Di kawasan kaki gunung Semeru ini terdapat penambangan pasir yang cukup besar milik almarhum Satuhan membuat Check Dam untuk menampung aliran pasir yang seharusnya mengalir ke arah Selatan.
“Jadi ceritanya ada kesepakatan antara Mbah Meru (penjaga gunung Semeru) dan Raja Naga untuk membangun Istana bawah laut Ratu Pantai Selatan dengan mengirimkan pasir dari gunung Semeru. Namun karena ada cek dam (penambangan pasir milik almarhum Satuhan) sehingga pasir tidak mengalir ke selatan. Maka membuat Ratu Pantai Selatan marah dan memerintahkan memporak-porandakan penambangan ini. Tak heran jika jembatan Gladak Perak dihancurkan dan tambang pasir yang habis serta sejumlah dump truck yang tenggelam. Ini karena keserakahan manusia,” jelasnya.
Gunung Semeru, lanjut Dadang, merupakan mother of mount Pulau Jawa. Selain tertinggi di Pulau Jawa yakni 3.676 meter dari permukaan laut, Gunung Semeru adalah pakunya Pulau Jawa.
Berawal dari kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa merupakan sebuah pulau mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan selalu berguncang. Pulau Jawa diceritakan terombang-ambing di lautan. Para Dewa pun memutuskan untuk memaku pulau ini.
Atas titah Dewa Siwa, para dewa memindahkan Gunung Meru (Bagian dari Himalaya di India) ke atas Pulau Jawa. Dewa Wisnu kemudian menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa. Tugasnya menggendong Gunung Meru di punggung. Sementara, Dewa Brahma menjelma menjadi naga raksasa yang membelitkan tubuhnya bak tali yang mengikat gunung dan badan kura-kura. Gunung itu akhirnya dapat diangkut melalui lautan.
Kedua dewa itu sudah selesai meletakkan Gunung Meru di bagian barat Pulau Jawa. Namun berat gunung itu justru membuat ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Karena itu, Dewa Wisnu dan Brahma lalu memotong Gunung Meru dan meletakkannya bagian ujung atasnya di ujung timur sebagai penyeimbang.
Potongan bagian bawah gunung yang diletakkan di sebelah barat akhirnya menjadi Gunung Pawitra. Gunung itu saat ini dikenal dengan nama Gunung Penanggungan.
Sementara bagian utama dari Gunung Meru diletakkan di bagian timur Pulau Jawa. Sekarang ini gunung itu dikenal dengan nama Gunung Semeru. Kedua gunung ini disebut Paku Bumi Pulau Jawa.
Nama Mahameru ini berasal dari bahasa Sansekerta Maha Meru. Meru berarti pusat dari alam semesta, baik secara fisik maupun spiritual. Sedangkan Maha berarti sangat besar. Dari sinilah kemudian puncak Gunung Semeru diberi nama Mahameru.
Menurut kepercayaan Bali, Gunung Semeru adalah Bapak Gunung Agung di Bali. Disebutkan dalam Lontar Raja Purana Pura Besakih, Lontar Raja Purana Pura Ulundanu Batur, Gunung Semeru merupakan stana dari Sang Hyang Pasupati dan juga merupakan pusat dari Seluruh Pura Kahyangan Jagat di Bali, karena itulah, sebelum dilaksanakannya pemujaan di Pura-pura tersebut, selalu dilakukan upacara mendak tirtha di Gunung Semeru.
Dadang mengatakan untuk penanganan dan penaggulangan bencana, yang harus diperhatikan adalah budaya dan kearifan lokal. Menurutnya ilmiah saja tidak cukup.
“Mungkin sebagian masyarakat menganggap ini mitos atau legenda namun yang harus diperhatikan tujuannya menjaga keseimbangan alam. Mahameru sadarkan angkuhnya manusia, puncak abadi para dewa, dalam lirik Mahameru Dewa 19 saja sudah dijelaskan demikian,” katanya.
Menurutnya Pemprov Jatim telah membangun ketangguhan bencana di Lingkar Semeru dengan melibatkan BPBD Jatim, Biro Kesra, Bappeda Jatim, Biro Humas Protokol Setdaprov Jatim hingga Pramuka. Dadang mengaku penaggulangan bencana ini dilakukan secara gotong royong.
“Selain itu pentingnya kolaborasi pentahelix dalam penanggulangan bencana. Dengan melibatkan peran pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat dan media massa,” katanya.
Pemprov Jatim juga melakukan pemenuhan logistik, pembangunan infrastruktur melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT), pemasangan rambu dan Desa Tangguh Bencana (Destana) di lingkar Semeru. (mus)
Editor : Jay Wijayanto