RADAR SURABAYA - Warung Cak Mis yang terletak di Jalan Bintoro merupakan salah satu angkringan legendaris di Kota Surabaya.
Sepintas tidak berbeda dengan angkringan pada umumnya, namun nama nama menu makanan di Warung Cak Mis ini unik.
Warung ini buka mulai pukul 11.00 hingga 23.00. Tapi kalau laris, warung ini sudah tutup pada jam 15.00.
Dari pantauan Radar Surabaya, Warung Cak Mis tak pernah sepi pengunjung.
"Tadinya buka mulai jam 17.00 sore sampai malam mas. Tapi sejak pandemi (covid-19) saya buka siang, karena malam gak boleh buka kan? Nah, sekarang sudah gak covid, kita buka sampai malam. Tapi kalau sore sudah habis ya pulang," kata sang pemilik warung, Cak Mis kepada Radar Surabaya, Sabtu (14/9).
Menu di Warung Cak Mis ini memiliki sebutan yang mungkin agak nyeleneh.
Ada sembako yang merupakan nama lain dari nasi bungkus, pakan doro untuk menyebut dadar jagung, cucak rowo alias sate telur puyuh, pecahan marmer yang bentuknya sate putih telur, dan satu lagi ada Krisdayanti untuk menyebut sate usus.
Untuk minumannya, ada STW alias es teh, Mbok Nom alias ss sinom dan Es Pentil untuk menyebut es susu.
"Yang paling disukai konsumen itu Krisdayanti sama semua jenis minumannya. Yang ngasih nama itu awalnya ya konsumen, ya wes kita manut ae. Sate usus itu tadinya sate keris karena mlungker kayak keris, tapi konsumen banyak yang nyebut Krisdayanti," terangnya.
Cak Mis mengatakan nama-nama unik ini muncul sekitar tahun 90an.
Menurutnya warung ini sudah ada sejak tahun 70-an, saat dirinya masih kecil.
Kemudian pada tahun 80-an, usaha milik keluarga ini dilanjutkannya.
"Ini milik Pakdhe awalnya, kemudian beliau meninggal, saya yang meneruskan," ungkapnya.
Harga makanan di warung Cak Mis relatif terjangkau. Untuk sate-satean dibanderol Rp3000, sedangkan gorengan Rp2000. (mus)