Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tinjau Lokasi Sumur Mengandung Metana di Sumenep, Dinas ESDM Jatim Sebut Lebih Banyak Kandungan Airnya

Mus Purmadani • Rabu, 4 September 2024 | 23:36 WIB
Tim Dinas ESDM Jatim bersama SKK Migas Jabanusa dan Kontraktor Migas HCML meninjau lokasi sumur warga yang mengandung minyak bumi di Dusun Koplong, Desa Batang, Sumenep, Madura, Selasa (3/9).
Tim Dinas ESDM Jatim bersama SKK Migas Jabanusa dan Kontraktor Migas HCML meninjau lokasi sumur warga yang mengandung minyak bumi di Dusun Koplong, Desa Batang, Sumenep, Madura, Selasa (3/9).

RADAR SURABAYA – Beberapa waktu yang lalu, masyarakat Dusun Koplong, Desa Batang, Batang Laok, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep digemparkan dengan adanya sumur bor yang mengandung migas (minyak dan gas bumi). 

Untuk mencegah terjadinya kebakaran, pihak kepolisian memberikan police line.

Kepala Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Jatim Aris Mukiyono kepada Radar Surabaya mengatakan, pihaknya bersama SKK Migas Jabanusa dan KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama)/Kontraktor Migas HCML sudah melakukan peninjauan terhadap lokasi sumur milik warga tersebut, Selasa (3/9).  

“Dari hasil penelitian tim kami lebih banyak kandungan airnya ketimbang kandungan metananya. Sebenarnya hal seperti ini sering terjadi di Madura. Meski tidak terlalu besar kandungan metananya, oleh polisi diberi police line untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya, Rabu (4/9).

Aris menambahkan, pengeboran air tanah dilakukan oleh warga sejak bulan November Tahun 2023 untuk mencukupi kebutuhan air bagi warga dengan total kedalaman mencapai 65 meter. 

“Setelah pengeboran mencapai kedalaman 65 meter, keberadaan air tanah tidak keluar. Kemudian pengeboran dihentikan dan ditinggalkan,” katanya.

Lebih lanjut Aris menambahkan pada Sabtu (31/8) sore, warga mengecek kembali hasil pengeboran tersebut.

Warga menemukan kondisi dalam lubang bor terisi air dengan kedalaman kurang lebih 3 meter. 

“Saat diambil airnya dengan menggunakan botol air mineral, airnya berwarna hitam dan berbau minyak tanah,” jelasnya.

Lebih lanjut Aris mengatakan crude oil (minyak bumi) muncul dikarenakan pengeboran yang mencapai zona cebakan minyak (lokasi masuk pada zona puncak antiklin) dan naik perlahan dari bawah karena berat jenis crude oil lebih ringan dari air. 

“Saat ini telah terpasang garis polisi dari titik sumur dengan radius kurang lebih 5 meter,” katanya.

Aris menambahkan telah dilakukan pengukuran keberadaan gas menggunakan alat detector gas sebanyak dua kali. 

Yaitu pada pengukuran pertama tercatat pada alat detektor gas menunjukkan LEL (Lower Explosive Limit) CH4 5,5 persen H2S 0 PPM, terdapat gas metana berkisar 5,5  persen yang mudah terbakar apabila tersulut sumber api dan hidrogen sulfida 0 PPM.

“Pada pengukuran kedua tercatat pada alat detector gas menunjukkan LEL CH4 8,8 persen H2S  0,5 PPM, terdapat gas metana berkisar 5,5  persen yang mudah terbakar apabila tersulut sumber api dan hidrogen sulfida 0,5 PPM (ambang batas H2S berkisar 15 ppm),” katanya.

Menurutnya untuk menghindari efek negatif kemungkinan peningkatan konsentrasi gas di kemudian hari, masyarakat tidak menyalakan sumber api di sekitar lokasi. 

Aris mengatakan akibat adanya kandungan CH4/metana, menyebabkan mudah terbakar.

“Kami menutup lubang sumur agar tidak terkontaminasi dan dimanfaatkan. Selain itu menunggu hasil laboratorium uji air (kandungan air) untuk tindak lanjut berikutnya,” pungkasnya. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#hcml #Dinas ESDM Jatim #madura #sumur minyak #detektor gas #metana #sumenep #SKK Migas