RADAR SURABAYA – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur Erwin Astha Triyono memastikan pihaknya belum mendapatkan laporan terkait adanya penderita gagal ginjal pada anak dan diabetes pada anak.
“Hingga saat ini kami belum mendapatkan laporan terkait dua penyakit tersebuft,” ujar Erwin, Kamis (8/8).
Erwin mengatakan dulu memang pernah ada kasus gagal ginjal pada anak ada di Jawa Timur. Menurutnya sebenarnya regulasi sudah ketat sekali.
“Badan POM pasti akan memberikan izin untuk obat yang qualified. Sekarang kuncinya pada masyarakat. Sehingga kalau bisa berobat jangan sampai beli obat sendiri. Harus ke dokter supaya dipilihkan obat terbaik dan legal. Sehingga harapan kita kedepan supaya kalau ada keluhan cepet lapor dan berobatnya ke tenaga medis. Jangan beobat sendiri semoga nanti bisa lebih aman,” terangnya.
Sebelumnya, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur, dr Sjamsul Arief, MARS, Sp.A(K), mengatakan, untuk saat ini perkembangan kasus gagal ginjal pada anak sehingga menyebabkan cuci darah atau hemodialisis bertambah.
Bertambahnya penyakit gagal ginjal karena cepat terdeteksi dari tempat rujukan kesehatan.
"Jadi kasus gagal ginjal pada anak tidak berkurang, malah bertambah karena baiknya sistem informasi dan rujukan dari kesehatan," kata dr Sjamsul, Rabu (7/8).
Menurutnya, penemuan kasus baru lebih bagus diketahui agar penanganan juga bisa maksimal dan dapat segera diatasi.
Meski demikian, kasus gagal ginjal pada anak saat ini bukan termasuk dalam kejadian luar biasa extraordinary.
"Penemuan kasusnya lebih bagus sehingga perhatian lebih bagus. Sehingga rujukan dari puskesmas ke rumah sakit tingkat c, b dan a juga bagus. Jadi jumlahnya meningkat tapi nggak ada sesuatu yang extraordinary," tegasnya.
Banyak anak sampai mengalami cuci darah penyebab utamanya menurut dr. Sjamsul pada ginjal 80 persen yang sudah mengalami peradangan atau Glomerulonefritis Akut (GNA) hingga emonologis atau lupus.
Sedangkan pada luar ginjal seperti dehidrasi akut atau penyakit bawaan. "Jadi penyebabnya hemodialisis baik dari ginjal maupun dari luar ginjal," terangnya.
Minuman instan berpemanis menurut dr. Sjamsul sebagai pemicu terjadinya masalah ginjal.
Karena secara medis seperti kopi sachet kurang baik untuk kesehatan karena mengandung akrilamit yang lebih tinggi dibandingkan kopi bubuk biasa.
"Akrilamit bisa menyebabkan gangguan syaraf penyebab kanker hyper kolesterol dan sebagainya. Kalau gula tinggi sering minum juga nggak baik, akan bisa menimbulkan diabetes pada anak-anak," imbuhnya.
Mi instan juga menurutnya mempunyai pengaruh, karena kadar garam yang tinggi ditambah dengan penyedap rasa.
Bahkan dia mencontohkan jika dibandingkan dengan di Singapura, mi instan yang disajikan harus memenuhi ketentuan batas nutrisi di negari Singa.
Jadi rasa mi instan di Singapura berbeda jika dibandingkan di Indonesia.
"Nah, seringnya mengkonsumsi mi instan bisa menyebabkan obesitas dan hipertensi. Apalagi mempunyai kadar garam yang tinggi dan penyedap masakannya yang kurang baik. Garam yang tinggi jelas nggak baik untuk ginjal," ungkapnya.
Oleh karena itu, dia mengimbau agar sebaiknya tidak mengkonsumsi minuman dan makanan instan yang berlebihan agar terhindar dari pemicu terjadinya penyakit ginjal.
Jika sampai terjadi cuci darah maka seumur hidup akan tergantung pada alat dialyzer dan tidak bisa diobati karena ibarat mesin sudah rusak, kalaupun ingin sembuh harus melakukan transplantasi ginjal, namun risikonya besar.
"Kalau sudah gagal ginjal stadium 2-3 seumur hidup tergantung dari alat cuci darah gak bisa diobati. Jadi harus dijaga betul pola minum dan makannya," pungkasnya. (mus/rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa