Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

7.666,8 Hektare Lahan Padi di Jatim Gagal Panen karena Kekeringan

Mus Purmadani • Rabu, 7 Agustus 2024 | 23:54 WIB

 

KERING: Lahan padi mengalami gagal panen karena kekeringan di musim kemarau. (ILUSTRASI/RADARSURABAYABISNIS)
KERING: Lahan padi mengalami gagal panen karena kekeringan di musim kemarau. (ILUSTRASI/RADARSURABAYABISNIS)

RADAR SURABAYA – Musim kemarau membuat sejumlah lahan pertanian di Jawa Timur mengalami kekeringan.

Bahkan kekeringan di sejumlah lahan di Jawa Jimur ini menyebabkan tanaman pertanian puso (gagal panen).

Daerah terdampak terluas terjadi di kabupaten Tuban seluas 2.286 hektare, Lamongan seluas 84,5 hektare dengan puso 2,00 hektare, Bojonegoro 20 hektar, Trenggalek 18 hektare dan Pacitan 17 hektare.

“Untuk tanaman kedelai, total area terkena seluas 42 hektare terjadi di kabupaten Pacitan,” jelasnya

Rudy menambahkan untuk mengatasi kekeringan, pihaknya melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota dalam rangka memaksimalkan capaian target luas tanam masa tanam April-September.

Masa tanam ini telah ditetapkan di seluruh kabupaten/kota dengan menyusun agenda gerakan percepatan olah tanah dan percepatan tanam. Kemudian optimalisasi jaringan irigasi.

“Dengan optimalisasi jaringan irigasi diharapkan debit air sampai kepertanaman dengan baik sehingga tanaman dapat berproduksi lebih maksimal. Selain itu juga dilaksanakan peningkatan debit air irigasi melalui rehabilitasi jaringan irigasi tersier,” katanya.

Lebih lanjut Rudy menambahkan mengenai pengembangan irigasi pompa, baik bantuan pemerintah maupun swadaya, pembuatan embung, serta mendorong perpompaan melalui sumur submersible secara swadaya oleh petani.

Kemudian melakukan budidaya tanaman sesuai iklim dan kondisi setempat.

Antara lain dengan menggunakan benih unggul bersertifikat dan memilih varietas umur pendek, tahan hama dan penyakit dan toleran terhadap kekeringan serta mengintensifkan monitoring, evaluasi dan pelaporan secara rutin terhadap perkembangan luas serangan hama dan penyakit tumbuhan dan dampak kekeringan.

“Selain itu optimalisasi pemanfaatan alat dan mesin pertanian. Dengan semakin berkurangnya tenaga kerja/buruh tani disektor pertanian maka solusinya adalah dengan pemanfaan alat mesin pertanian (Alsintan) untuk mengolah lahan, menanam, memanen yang lebih efektif dan efisien terutama dalam mempercepat waktu penyiapan lahan, penyiapan tanam serta menekan kehilangan hasil dan bahkan dapat memproses lebih lanjut menjadi bahan jadi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi,” jelasnya.

Baca Juga: Pastikan Tidak Ada Kelangkaan, Harga Minyakita di Pasar Surabaya Justru Masih Rp 14 Ribu per Liter

Kemudian menerapkan pola tanam dengan pergiliran padi ke tanaman palawija (jagung, kacang hijau, kedelai) atau tanaman lain yang memungkinkan sesuai dengan keadaan spesifik lokasi.

“Pemanfaatan Asuransi Usahatani Pangan (AUTP). Sehubungan dengan tidak menentunya musim/cuaca saat ini maka diharapkan para petani padi mengikuti AUTP, sehingga saat terkena bencana alam kekeringan/banjir/serangan hama dan penyakit masih bisa melanjutkan usaha taninya dengan memanfaatkan klaim yang diperoleh untuk kembali bercocok tanam,” pungkasnya. (mus/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#tanaman padi #puso #gagal panen #lamongan #hektare #Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan #kekeringan #Dydik Rudy Prasetya #Musim Kemarau