RADAR SURABAYA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat jumlah luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama Mei hingga Juli mencapai 102,5 hektare.
Kebakaran ini terjadi di Situbondo dan Pasuruan.
Hal tersebut disampaikan Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto kepada Radar Surabaya, Minggu (28/7).
Diungkapkannya, karhutla di Situbondo seluas 17,5 hektare, sedangkan di Pasuruan 85 hektare.
"Kebakaran hutan dan lahan ini bukan hanya milik Perhutani saja, tapi sawah maupun kebun milik masyarakat juga kita hitung," katanya.
Meski demikian, lanjut Gatot, jika dibandingkan tahun lalu dengan bulan yang sama, karhutla kali ini lebih kecil.
"Tahun lalu musim panasnya lebih panjang dan kebutuhan air untuk pemadaman sangat sulit," jelasnya.
Untuk antisipasi karhutla, Gatot mengatakan pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak.
Seperti BMKG, BNPB dan Kementerian PUPR. "Sehingga jika kesulitan air bisa dilakulan water bombing dan modifikasi cuaca," ungkapnya.
Gatot mengatakan puncak kekeringan pada bulan Agustus dan September.
Maka dari itu, Gatot meminta masyarakat untuk waspada. "Karena potensi karhutla masih berpotensi terjadi," jelasnya.
Sementara itu berdasarkan validasi perhitungan luas karhutla di Jawa Timur oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI selama periode 1 Januari – 30 Juni tercatat seluas 360,79 hektare.
Jumlah luas tersebut sama dengan 0,03 persen dari luas kawasan hutan Jawa Timur yang terbakar.
Hal tersebut disampaikan Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono memimpin Apel Siaga Gabungan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2024 di lapangan Desa Trawas Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Selasa (23/7).
Apel Siaga Gabungan Pengendalian Karhutla Tahun 2024 ini diikuti sekitar 800 orang personel dari berbagai unsur.
Mulai dari TNI, Polri, Polhut, BPBD, Tagana dan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Dalam amanatnya, Adhy menekankan kepada seluruh masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya karhutla di Jatim.
"Saya tekankan agar kita semua meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah konkrit dalam pengendalian Karhutla. Sebagai contohnya segera menetapkan status siaga darurat Karhutla, memastikan kesiapsiagaan personel, sarana dan prasarana," terangnya.
Selain itu, Adhy juga menyampaikan, perlunya mengintensifkan kegiatan pengendalian karhutla melalui berbagai kegiatan.
Antara lain patroli pencegahan, penyuluhan, sosialisasi dan kampanye.
"Yang tak kalah penting juga adalah melakukan pemantauan secara rutim terhadap deteksi dini Karhutla melalui aplikasi SiPongi dan mengamati prediksi cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG. Sehingga upaya pengendalian Karhutla bisa dilakukan secara cepat, tepat dan efektif," terangnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa