Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jangan Sepelekan Keberadaan Alat Ukur Tekanan Darah di Rumah, Ternyata Bisa Selamatkan Anda dari Stroke

Rahmat Sudrajat • Minggu, 19 Mei 2024 | 23:05 WIB
PRESENTASI: Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Jatim Dr. dr. Ade Armada Sutedja, SH., MHKes., M.KP menjelaskan mengenai pentingnya alat pengukur tekanan darah di rumah. (ANDY S/RADAR SBY)
PRESENTASI: Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Jatim Dr. dr. Ade Armada Sutedja, SH., MHKes., M.KP menjelaskan mengenai pentingnya alat pengukur tekanan darah di rumah. (ANDY S/RADAR SBY)

RADAR SURABAYA – Penyakit kardiovaskular dan cerebrovascular seperti serangan jantung dan stroke, berada di urutan atas dalam daftar penyebab kematian utama di Indonesia.

Untuk menanganinya, dibutuhkan kolaborasi erat antara berbagai pihak, termasuk organisasi kesehatan, pemerintahan, dan pihak swasta.

Di Indonesia, diagnosis hipertensi dilaporkan masih rendah.

Laporan WHO menyatakan tingkat diagnosis hipertensi di Indonesia hanya 36 persen.

Angka itu lebih rendah dibandingkan Vietnam yang sudah 47 persen dan India 37 persen.

Hal ini salah satunya disebabkan karena rendahnya kesempatan pemeriksaan kesehatan.

Terutama jika tidak ditanggung asuransi atau perusahaan, dan rendahnya kepemilikan alat ukur tensi di kalangan masyarakat.

Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Jatim Dr. dr. Ade Armada Sutedja, SH., MHKes., M.KP mengatakan, hipertensi dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup yang sehat.

Seperti menjaga asupan makanan dan minuman, rutin berolahraga, serta menghindari pemicu stres serta deteksi dini dengan pengukuran tekanan darah berkala meskipun tanpa ada keluhan.

Seperti menjaga asupan makanan dan minuman, rutin berolahraga, serta menghindari pemicu stres serta deteksi dini dengan pengukuran tekanan darah berkala meskipun tanpa ada keluhan.

“Jika sudah terlanjur mengalami hipertensi, seseorang tetap dapat menjaga kualitas hidup dan harapan hidupnya dengan baik, dengan menjalani pengobatan yang teratur dan mengukur tekanan darah secara berkala,” kata dr. Ade di sela simposium “Heart Health: Keeping Your Cardiovascular Well-being in Check” dalam rangka Hari Hipertensi Sedunia 2024 di Surabaya, Sabtu (18/5).

Dokter Ade menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang sederhana namun efektif adalah memiliki alat ukur tekanan darah di rumah yang mudah dioperasionalkan sewaktu-waktu dan akurat.

Upaya ini bisa dikombinasikan dengan berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat jika tekanan darah di luar batas normal.

“Paling baik mengukur tensi pada saat pagi, setelah bangun tidur, dan di sore hari,” sambungnya.

Diakui dr. Ade, kepemilikan alat ukur tensi di rumah untuk pemantauan tekanan darah secara berkala.

Juga untuk memudahkan penderita hipertensi dalam memonitor tekanan darah sewaktu-waktu, sehingga dapat lebih proaktif dalam mengelola kondisi kesehatan.

“Langkah sederhana ini diharapkan dapat membantu menurunkan jumlah penderita hipertensi secara keseluruhan dan pada akhirnya mengurangi angka penderita penyakit jantung dan juga stroke.

Saat ini hipertensi disebut sebagai silent killer di dunia.

Di tahun 2022, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 15,5 juta kasus penyakit jantung terjadi di Indonesia.

Angka itu meningkat dari 12,93 juta kasus pada 2021.

Hipertensi juga mengakibatkan 245.343 kematian akibat penyakit jantung koroner dan 50.620 kematian akibat penyakit jantung hipertensi tiap tahun.

Tekanan darah tinggi juga merupakan faktor risiko utama untuk stroke.
Berada di urutan teratas sebagai penyebab disabilitas di dunia, stroke juga tercatat sebagai penyebab kematian utama di Indonesia.

Dengan peningkatan dari 1,99 juta kasus pada tahun 2021 menjadi 2,54 kasus pada tahun 2022.

Dalam kesempatan yang sama, Tomoaki Watanabe, Direktur Omron Healthcare Indonesia mengatakan, simposium yang diikuti 100 dokter umum se-Jatim ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dokter umum dalam menangani pasien dengan gangguan hipertensi sebagai pemicu utama penyakit kardiovaskular.

“Salah satu tantangan utama dalam menekan prevalensi penyakit kardiovaskular masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemantauan tekanan darah secara teratur di rumah,” ungkap Tomoaki.

Padahal, lanjut dia, dengan pemantauan rutin dan pengobatan, serta berbagi data yang lebih komprehensif dengan penyedia layanan kesehatan akan memastikan perawatan hipertensi yang lebih baik.

“Kami senang sekali bisa bekerja sama dengan PDUI Jawa Timur dalam upaya meningkatkan kesadaran pentingnya pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah,” ujarnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#alat ukur tekanan darah #Persatuan Dokter Umum Indonesia #PDUI Jatim #tekanan darah tinggi #hipertensi