RADAR SURABAYA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur mencatat, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jatim selama tahun 2023 mencapai 9.401 kasus.
Sedangkan dari bulan Januari hingga minggu ketiga bulan Maret, telah mencapai 6.515 kasus.
“Trennya naik, pemicunya adalah musim hujan. Meski demikian kita tidak boleh menyalahkan alam begitu saja, karena yang terpenting adalah pemberantasan sarang nyamuk,” ujarnya Kepala Dinkes Jatim Dr Erwin Astha Triyono di Gedung Negara Grahadi, Selasa (26/3).
Cara pemberantasan sarang nyamuk tersebut dengan 3M.
Pertama, menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi.
Kedua, menutup tempat-tempat penampungan air.
Dan ketiga mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.
“Untuk Case Fatality Rate (CFR) masih dibawah 1 persen artinya masih aman. Meski demikian harus diaudit jangan sampai fatal,” katanya.
Yang paling penting, lanjut Erwin, kematian DBD banyak terjadi pada anak-anak.
“Karena DBD ini kerap menipu artinya pada hari ketiga – keempat panasnya turun, biasanya si anak akan main. Padahal panas hari ketiga dan keempat ini ancaman muncul dalam bentuk shock atau pendarahan,” ungkapnya.
Erwin berpesan kepada orang tua, jika panas terjadi pada anak karena DBD atau tidak.
“Pencegahan dan deteksi dini penting. Karena terapi DBD ini tidak ada yang lebih baik kecuali cairan. DBD ini sembuh dengan sendirinya dalam waktu tujuh hari. Cuma dua ancaman (shock dan pendarahan) tidak bisa diprediksi, maka monitoring harus dilakukan bisa di rumah sakit atau tenaga kesehatan atau di rumah. Kalau ada tanda-tanda DBD lebih baik ke rumah sakit atau puskesmas,” tuturnya.
“Kalau ada kasus maka harus fogging untuk untuk memutus nyamuk dewasanya. Timing sangat diperlukan untuk fogging. Jangan sekal-sekali fogging karena keinginan. Tapi saat ada kasus dan membutuhkan,” pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa