RADAR SURABAYA - Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio dilakukan serentak, Senin (15/1).
Imunisasi ini dilakukan untuk melindungi dan menanggulangi kejadian luar biasa (KLB) polio.
Pasca penemuan kasus lumpuh layu di Kabupaten Pamekasan dan Sampang, Jawa Timur, dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur, dr. Sjamsul Arief, MARS, Sp.A(K) mengatakan, dalam imunisasi, orang tua tidak boleh menolak dan menghalangi anaknya untuk mendapatkan hak imunisasi polio.
Selama dua hari ini petugas kesehatan dari puskesmas juga masih melakukan sweeping imunisasi.
“Karena masih ada anak atau balita yang masih belum diimunisasi polio,” ungkap Sjamsul.
Ia melanjutkan, polio merupakan virus yang masuk melalui saluran pencernaan.
Sehingga bisa menyebabkan kelumpuhan maupun layu pada anak maupun balita yang berusia 0-7 tahun.
"Kalau sudah terkena (polio, Red) tidak bisa diobati, bisa lumpuh. Makanya saat ini polio tidak bisa disepelekan. Pemerintah telah memberikan imunisasi booster extra saat ini untuk mencegah polio," sambungnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bayi sebetulnya sudah diimunisasi polio sejak usia 2, 3, dan 4 bulan.
Kemudian imunisasi polio diulangi lagi di usia satu setengah tahun.
"Kalau sudah dilakukan polio (imunisasi, Red) mestinya sudah hilang atau terjadi eradikasi polio. Tapi kita tahu ada masyarakat yang menolak untuk imunisasi sehingga terjadi KLB," terangnya.
Polio dinyatakan KLB menurutnya jika ada kasus 1 sampai 2 yang dinyatakan positif polio.
Sehingga ada gerak cepat untuk mengantisipasi dengan tindakan imunisasi ekstra.
"Jadi tidak pandang sudah imunisasi polio atau belum, semua anak-anak harus dilakukan imunisasi untuk pencegahan," imbuhnya.
Meski demikian, Sjamsul mengaku masih ada orang tua yang tidak setuju anaknya diimunisasi.
Lantaran orang tua melihat anaknya tampak sehat-sehat saja.
Ia mencontohkan daerah tapal kuda yang biasanya orang tuanya tidak setuju imunisasi polio dengan berbagai pandangan dan pendapat.
"Ya ada orang tua yang tidak setuju, biasanya mereka mengaku anaknya sehat, kenapa kok disuntik. Tapi imunisasi gak hanya polio, ada cacar, campak, DOT dan macam-macam," terang Sjamsul.
Sjamsul menegaskan bahwa orang tua tidak boleh menolak anaknya diimunisasi, karena imunisasi merupakan hak anak.
"Ya gak boleh karena itu hak anak jadi gak boleh dihalangi. Ada aturan hukumnya jika menghalangi imunisasi polio," ungkapnya.
Sampai saat ini ia menyebut daerah yang masih terjadi KLB di Madura, yakni Pamekasan dan Sampang, yang ada dua kasus polio.
"Sedangkan untuk Surabaya sementara ini tidak ada," ujarnya.
Sementara itu, sampai saat ini beberapa anak usia 0-7 tahun masih ada yang belum mendapatkan imunisasi.
Hal ini karena beberapa alasan, mulai dari sakit hingga belum adanya keperluan orang tua sehingga anaknya belum bisa divaksin.
Seperti imunisasi polio yang dilakukan di kawasan Sawah Pulo, Surabaya.
Petugas kesehatan dari puskesmas sejak pagi hingga siang, tampak melakukan sweeping atau imunisasi door to door dari rumah ke rumah.
Upaya itu untuk mengecek, apakah anak-anak sudah mendapatkan imunisasi polio atau belum.
Kepala Puskesmas Sawah Pulo, dr Gerryd Dina mengatakan, target capaian imunisasi polio di wilayahnya mencapai 4.132 anak.
Selama dua hari ini pihaknya melakukan sweeping kepada anak-anak yang belum terimunisasi polio.
"Di wilayah kami memiliki target sasaran 4.132 sasaran imunisasi polio, sedangkan proyeksinya sebesar 4.180 sasaran pin,” ungkapnya.
Sasaran itu terdiri dari PAUD,TK, SD kelas 1 dan kelas 2 serta balita usia 0-60 bulan.
Saat imunisasi hari H (15 Januari) mencapai 91,53 persen.
“Capaian sweeping hari pertama 16 Januari di Puskesmas Sawah Pulo sebanyak 354 sasaran PIN telah di vaksin sehingga clear di hari pertama sweeping," ujar Gerryd.
Ia mengaku sampai sore ini pihaknya masih melakukan sweeping.
Ketika sweeping anak-anak yang belum melakukan imunisasi polio diantaranya ada yang sakit, ada yang pergi ke luar kota.
"Jadi kami melakukan sweeping dengan langsung door to door ke rumah untuk melakukan imunisasi polio. Karena kemarin ada yang belum terimunisasi karena ada yang sakit, ada yang pergi dan bahkan ada yang tidak tahu kalau ada imunisasi polio," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa