RADAR SURABAYA - Pakar transportasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ir Machsus mengatakan, program Bus Trans Jatim terbukti mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, mengurai kemacetan dan meminimalisir laka lantas di wilayah anglomerasi Gerbangkertasusila. Meski demikian menurutnya masih ada yang harus dievaluasi.
"Belum adanya integrasi antara Trans Jatim dengan Suroboyo Bus membuat konektivitas yang diharapkan tidak berjalan dengan baik karena masih terkesan ada sekat terirorial. Harusnya Surabaya yang menjadi central connectivity justru lebih terbuka," ujarnya, Rabu (13/12)
Untuk pengembangan koridor Trans Jatim hingga ke seluruh wilayah Gerbangkertasusila, lanjut Machsus, perlu dibentuk kelembagaan seperti BUMD bersama antara provinsi dan kabupaten/kota supaya integrasi menjadi lebih mudah dan saling menguntungkan secara proporsional.
“Koridor Trans Jatim yang sudah terbentuk baru menghubungkan 4 daerah yaitu Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto. Sedangkan untuk wilayah Bangkalan dan Lamongan belum terbentuk,” jelasnya.
Ia optimis seiring dengan munculnya PP No.35 Tahun 2023 dalam satu klausulnya mengamanatkan bahwa pajak PKB harus dialokasikan 10 persen kembali ke urusan transportasi sehingga nantinya bisa jadi pertimbangan pemprov dan pemkab/pemkot untuk menjalin kerja sama yang lebih kuat.
"Semakin banyak simpul yang sambung maka konektivitas akan semakin mudah sehingga nilai ekonomis dan pelayanan semakin meluas dan ujungnya sudah tentu perekonomian masyarakat bisa meningkat,” ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan anggota Komisi D DPRD Jatim Kuswanto. Ia menilai program Trans Jatim perlu ditingkatkan nilai ekonomisnya sehingga secara otomatis masyarakat akan beralih menggunakan transportasi massal.
Kuswanto mencontohkan belum adanya tempat penitipan sepeda motor di dekat halte Trans Jatim membuat masyarakat masih lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi karena dinilai lebih efektif dan efisien.
"Lokasi halte itu kebanyakan jauh dari pemukiman sehingga masyarakat perlu penghantar menuju halte. Kalau ada tempat penitipan sepeda tentu masyarakat akan lebih mudah," jelasnya.
Begitu juga dengan pembentukan BUMD bersama sebagai lembaga pengelola Trans Jatim, kata Kuswanto dinilai kurang efektif karena BUMD cenderung membebani APBD sehingga lebih baik diserahkan kepada pihak pihak yang selama ini sudah berkecimpung di bidang transportasi.
“Tiga koridor Trans Jatim yang sudah ada ini sudah cukup bagus karena Dishub Jatim kerja sama dengan pihak III seperti Perum Damri, PO Bagong dan PO Mandala,” jelas Kuswanto.
Anggota Komisi D lainnya, Hadi Dediyansyah menyatakan bahwa program Trans Jatim merupakan terobosan (inovasi) yang harus dilakukan Pemprov Jatim sehingga perlu didukung untuk dikembangkan ke seluruh wilayah Jatim.
Hadi berharap ada konektivitas antara provinsi dengan kabupaten/kota, terutama Kota Surabaya yang harusnya menjadi sentral program Trans Jatim karena menjadi ibu kota provinsi Jatim.
Ia juga menyarankan tetap menyediakan pelayanan cash money walaupun sudah ada aplikasi menggunakan IT. Alasannya, pengguna Trans Jatim itu belum semuanya melek IT terutama masyarakat kalangan usia tua.
“Kolaborasi teknologi dan sistem manual tetap diperlukan karena itu bagian dari kemudahan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat pengguna Trans Jatim," tuturnya. (mus)
Editor : Nofilawati Anisa