RADAR SURABAYA – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Jawa Timur membawa uang pecahan baru senilai Rp 2,1 miliar ke Pulau Sapeken. Uang tersebut dalam pecahan beragam, mulai nominal Rp 1.000 hingga yang terbesar, Rp 100.000.
Miliaran rupiah uang baru itu dibawa ke Pulau Sapeken dalam rangka kegiatan Kas Keliling Kepulauan 3 T (Terdepan, Terluar, Terpencil).
Kegiatan Kas Keliling Kepulauan 3T di Pulau Sapeken, telah melayani penukaran sejumlah uang lusuh dan rusak selama kunjungan ke pulau yang terletak di Kabupaten Sumenep tersebut.
Uang rusak mulai dari pecahan Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000 hingga Rp 10.000 ditukar dengan uang baru oleh BI.
Manajer Tim Pengelolaan Uang Rupiah Bank Indonesia Jatim yang juga Ketua Tim Kas Keliling Kepulauan 3T Dadan Priyoko mengatakan, kegiatan kas keliling dilakukan untuk memastikan ketersediaan uang layak edar. Khususnya di wilayah yang sulit dijangkau oleh layanan perbankan konvensional.
“Banyaknya uang rusak yang ditukarkan, mengindikasikan perlakuan yang tidak tepat dalam merawat uang rupiah selain kondisi wilayah yang minim akses perbankan,” ungkap Dadan dalam keterangan resminya, Jumat (1/12).
Oleh karena itu, lanjut dia, dibutuhkan edukasi kepada masyarakat tentang cara memperlakukan fisik uang rupiah dengan lebih baik.
BI mengidentifikasi penyebab utama dari keadaan uang lusuh dan rusak tersebut salah satu kemungkinan adalah minimnya akses perbankan. Juga karena kondisi infrastruktur transportasi yang kurang mendukung, sehingga uang lusuh masih diedarkan dalam transaksi.
"Bank Indonesia juga mencari solusi untuk memperbaiki efektivitas pendistribusian uang layak edar ke wilayah 3T. Salah satunya melalui kegiatan Kas Keliling Kepulauan 3T yang rutin dilakukan ke sejumlah kepulauan," katanya.
Dadan mengungkapkan, BI telah berkomitmen untuk menyediakan uang dalam jumlah nominal yang cukup, sesuai pecahan, tepat waktu dan dalam kondisi layak edar, termasuk di daerah 3T.
"Kami bekerja sama dengan beberapa pihak termasuk TNI-AL, untuk menjangkau lokasi 3T khususnya di kepulauan sekitar Provinsi Jawa Timur," sambungnya.
Sementara itu, masyarakat di Pulau Sapeken memberikan tanggapan bervariasi. Beberapa warga menyatakan kekhawatiran akan kemungkinan adanya praktik pemalsuan uang yang merugikan mereka.
Di sisi lain, ada juga yang menyoroti perlunya perbaikan infrastruktur transportasi sebagai langkah krusial untuk memastikan kelancaran distribusi uang.
Termasuk adanya jaringan kantor bank umum di wilayah kepulauan.
Warsiah, warga Desa Sapeken, Kecamatan Sapeken mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan Kas Keliling Kepulauan ini.
"Saya dulunya khawatir, uang tidak layak edar yang selama ini disimpan nggak akan laku. Karena banyak pedagang yang tidak mau menerimanya. Namun sekarang bisa ditukarkan tanpa ada potongan sepeserpun oleh Bank Indonesia," kata perempuan yang setiap harinya sebagai penjual ikan.
Ia menceritakan, selama ini untuk bisa mendapatkan uang baru, dirinya harus memanfaatkan jasa titip. Dan itupun ada potongan dan biayanya.
"Biasanya kegiatan tersebut saat menjelang hari raya baru bisa mendapatkan uang baru. Itu pun kalau ada yang ke Kota Sumenep yang waktu tempuhnya sekitar 12 jam melalui kapal barang," ceritanya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa