Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

BKKBN: 3950 Perempuan di Jatim yang Sudah Menikah Berpotensi Lahirkan Anak Stunting

Mus Purmadani • Kamis, 20 Juli 2023 | 14:10 WIB
Ilustrasi anak stunting. (DOK.JPC)
Ilustrasi anak stunting. (DOK.JPC)

SURABAYA - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Republik Indonesia dr Hasto Wardoyo Hasto Wardoyo mengatakan 3.950 perempuan Jawa Timur yang sudah menikah berpotensi melahirkan anak stunting. Hal ini disebabkan karena para perempuan ini memiliki tubuh kurus akibat gizi yang kurang tercukupi.

Hasto mengatakan dari jumlah tersebut banyak juga yang terkena anemia ringan. Menurutnya perempuan ini jika hamil maka anaknya berpotensi stunting. “Faktor lain yang mempengaruhi lahirnya anak stunting adalah ibu hamil di usia di bawah 20 tahun. Intervensi yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah memberi bantuan makanan bergizi dan pengecekan kesehatan secara berkala melalui posyandu,” ujarnya, Selasa (18/7)

Lebih lanjut Hasto mengatakan pihak Kementerian Kesehatan pada bulan September nanti akan mengecek angka stunting secara nasional. Dirinya optimis angka stunting bisa menurun jadi 17 persen di akhir tahun. “Kalau akhir tahun 17 persen, maka tahun 2024 bisa 14 persen,” ungkapnya.

Sementara itu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan Pemprov Jatim terus berupaya menurunkan stunting bersama dengan seluruh kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur. Terutama untuk mempercepat tercapainya target penurunan stunting Jatim di angka 14 Persen di tahun 2024 mendatang.

“Jika merujuk data prevalensi stunting di Jatim, angkanya sudah konsisten mengalami penurunan signifikan. Terbukti, pada tahun 2020, prevelensi stunting di Jatim mencapai 25,6 persen. Kemudian tahun 2021 turun 23,5 persen, dan di tahun 2022 kembali turun menjadi 19,2 persen. Angka yang terus turun ini, patut disyukuri karena saat ini telah dibawah standar World Health Organization (WHO) pada angka 20 persen. Strong Partnership seperti saat ini menjadi kunci didalam penurunan angka stunting di Jawa Timur,” jelas Khofifah.

Selain itu, lanjut Khofifah, periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) harus difahami sejak dini yang dimulai sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Ini penting, untuk memastikan ibu dan janin yang dilahirkan sehat. Karenanya, substansi inilah yang harus dipahami oleh masyarakat yang akan berkeluarga.

“Edukasi dan pemahaman yang utuh harus terus disampaikan demi mengantisipasi peningkatan kenaikan stunting di Jatim. Langkah mitigatif dan edukasi seperti inilah yang terus dilakukan oleh Pemprov Jatim. Termasuk, langkah antisipatif kepada calon pengantin,” pungkasnya. (mus)

Editor : Jay Wijayanto
#anak stunting #perempuan menikah #bkkbn #Hasto Wardoyo