Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sasar Remaja Putri untuk Turunkan Prevalensi Stunting di Jawa Timur

Administrator • Kamis, 18 Mei 2023 | 20:37 WIB
Pengukuran fisik anak untuk mendeteksi stunting di Puskesmas Kecamatan Wonocolo Surabaya. (DOK. JAWA POS)
Pengukuran fisik anak untuk mendeteksi stunting di Puskesmas Kecamatan Wonocolo Surabaya. (DOK. JAWA POS)
SURABAYA - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dr Erwin Astha Triyono mengatakan, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting Provinsi Jawa Timur sebesar 19,2 persen, balita wasting sebesar 7,2 persen, dan balita underweight sebesar 15,8 persen.

“Salah satu upaya dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) maupun stunting adalah dengan menarget remaja putri menjadi remaja yang sehat, yaitu dengan menggaungkan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin maupun edukasi konsumsi makanan gizi seimbang agar terhindar dari anemia dan siap saat menjadi ibu hamil pada masa dewasa. Jika tidak dimulai dari remaja, maka biasanya terlambat. Sudah terlanjur anemia, lalu menjadi ibu hamil, maka bayinya berpeluang untuk stunting,” jelasnya, Rabu (17/5).

Erwin menambahkan bahwa karena remaja putri lebih mudah dijangkau di sekolah dan madrasah, maka Dinas Kesehatan perlu bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, MUI, serta lintas sektor terkait lainnya bersama-sama memberikan edukasi kepada para remaja putri, baik di sekolah maupun di lingkungan pondok pesantren agar mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan TTD demi mewujudkan remaja putri yang sehat yang akan melahirkan generasi yang sehat dan unggul.

Selain mengoptimalisasi pemberian TTD pada remaja putri, kegiatan Inisiatif, Kolaborasi, Inovasi Pesantren Sehat Jawa Timur (IKI Pesat Jatim) juga berupa promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yaitu pembinaan Kader Santri Husada, melaksanakan Survei Mawas Diri, Musyawarah Masyarakat Pondok Pesantren dan Pendampingan Poskestren melalui program Santri Jatim Sehat dan Berkah yang dimulai sejak tahun 2019.

“Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota pada tahun 2022, terdapat 4046 pondok pesantren di Jawa Timur, dimana 1500 diantaranya atau sebanyak 37,2% telah memiliki pos kesehatan pesantren (poskestren),” ungkapnya.

Harapannya, bagi pondok pesantren yang belum memiliki poskestren untuk segera membuat poskestren, namun jika belum memungkinkan maka harus berkoordinasi dengan puskesmas terdekat, agar dapat mendapatkan akses layanan yang terbaik.

“Kegiatan lainnya berupa peningkatan inspeksi kesehatan lingkungan melalui peningkatan kapasitas pelaksanaan inspeksi kesehatan lingkungan secara mandiri dan dukungan deteksi dini penyakit TBC melalui skrining mandiri gejala TBC melalui E-TIBI,” pungkasnya. (mus) Editor : Administrator
#Tablet Tambah Darah #Sasar Remaja Putri #Prevalensi Stunting di Jawa Timur #pemprov jatim #dinkes jatim