Program budidaya jamur ini sebelumnya sudah dilakukan Kelompok Usaha Bersama (Kube) Fleurir di RW 04. PHE-WMO memperluasnya ke wilayah RW 03 Kelurahan Sidorukun tahun ini. Budidaya jamur tiram yang menggunakan media baglog ini dibangun di sana.
"Kami berharap program ini dapat membantu warga Desa Sidorukun. Dampak pandemi Covid-19 mengakibatkan banyak orang kehilangan mata pencaharian. Semoga semua pihak mendukung program ini agar manfaatnya merata dan dirasakan seluruh warga setempat," kata Sapto Agus Sudarmanto, Field Manager PHE WMO, Selasa (14/6).
Dijelaskan, dengan menggunakan empat ribu baglog, warga bisa memproduksi 20 kilogram jamur per hari, dengan rata-rata penghasilan Rp 400 ribu per hari. Hasil ini diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar-pasar tradisional di Gresik, dan bahkan mall-mall di Gresik.
Jamur yang diproduksi bisa diolah menjadi produk olahan, seperti jamur krispi, sempol jamur, manisan jamur, dan lainnya. Saat ini kelompok masih dalam masa inkubasi 4000 baglog, dan diharapkan pada 120 hari kedepan sudah dapat dilakukan panen yang pertama
Tingginya permintaan pasar dan terbatasnya hasil produksi di Kube Fleurir membuat ada peluang pasar yang bisa dijangkau dengan replikasi program, khususnya Kube Jatim (Kelompok Usaha Bersama Jamur Tiram). Ini juga menjadi media pembelajaran dan kegiatan wisata edukasi petik jamur bagi institusi baik pendidikan serta dinas.
Budidaya jamur tiram menggunakan baglog adalah metode yang relatif mudah dan terjangkau. Perawatannya tidak susah dan memanfaatkan daur ulang air limbah. Ada dua tandon IPAL (Instalisasi Pengolahan Air limbah) domestik yang masing-masing memiliki kapasitas 2200 liter dan 1100 liter. Tandon ini menampung limbah domestik dari 116 kepala keluarga di wilayah RW 03 Desa Sidorukun.
Hasil pengolahan air limbah tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk menyirami tanaman dan budidaya jamur. Selain itu, air limbah bisa dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban suhu di dalam kumbung jamur, dengan menggunakan alat nozzle spray.
Ada dua bak kontrol yang berisikan koral, pasir, arang batok kelapa dan ijuk. Bak kontrol pertama terhubung dengan bak kontrol, dengan memanfaatkan pompa water jet melalui pipa 4 inci untuk memompa air ke tandon air 1100 liter. Dari dua tandon ini, air dipompa melaluhi dua tabung filter yang berisikan karbon aktif, pasir silikam dan manganese ke tandon air 2200 liter.
"Kami berterima masih kepada PHE WMO yang memiliki kepedulian di Sidorukun. Semoga memberikan manfaat dan keberkahan, dan semoga semangat teman-teman bisa saling menularkan satu dan lainnya," ujar Kepala Desa Sidorukun, Djuli Aspug. (fix/jay) Editor : Administrator