SURABAYA - Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof. Mohammad Nasih optimistis vaksin Covid-19 Merah Putih yang mereka kembangkan akan siap digunakan pada tahun 2022. Universitas Airlangga (Unair) menggunakan metode platform inactivated virus dalam mengembangkan vaksin Merah Putih yang saat ini sedang dalam tahap uji pre klinis.
"Perihal kapan waktu vaksin bisa digunakan, diprediksi sekitar 10 hingga 11 bulan lagi atau tahun depan siap digunakan. Mengingat tahap praklinis bukanlah tahap yang sederhana dan sebentar," kata Prof. Nasih dalam jumpa pers, Senin (19/4).
Panjangnya proses pembuatan vaksin Merah Putih tersebut, menurut Prof. Nasih, agar efektivitas vaksin bisa benar-benar maksimal. "Dari semua proses ini, yang terpenting Unair tidak akan terlalu jauh ikut dalam proses produksi massalnya. Posisi Unair berada dalam proses penyiapan dan semua dilakukan dengan benar dan mendapatkan rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)," ujarnya. "Mohon doanya, semua harap bersabar dan semoga vaksin Merah Putih bisa segera dimanfaatkan oleh semua kalangan," kata Prof. Nasih.
Nantinya setelah rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah keluar, Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Prof Nasronudin dan Wakil Direktur RSUD Dr Soetomo Surabaya Prof Cita Rosita Sigit Prakoeswa akan melakukan uji klinis di masing-masing rumah sakit.
Dalam kesempatan sama, Koordinator Produk Riset Covid-19 Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan bahwa perjalanan riset vaksin Merah Putih Unair merupakan perjalanan panjang dengan melibatkan tim besar.
Tim Peneliti Vaksin Merah Putih Universitas Airlangga juga memperhitungkan adanya mutasi virus Covid-19 selama ini. Dan uji vaksin merah putih yang kini tengah dilakukan uji preklinik pada hewan besar makaka, sudah memperhatikan tiga beberapa mutasi.
Tiga mutasi virus Corona diketahui selama setahun ini menjadi D614G, B117, E484K dan B1525. Bahkan, di Indonesia khususnya Surabaya, sejak awal sudah masuk mutan D641G.
"Jadi desain ketiga platform itu sudah memperhatikan itu. Ini mutan yang paling utama dan paling penting D641G, karena semua mutasi varian di tempat lain masih memiliki G, semua memiliki G. Dari D jadi G atau glisin," kata Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih di Gedung Rektorat Unair C.
Menurutnya, mutasi virus baru lainnya masih memiliki D614G di dalam strainnya. Kemudian, strain D berubah ke G ini yang digunakan dalam vaksin Merah Putih platform Unair.
"Varian baru yang muncul di Inggris, Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan India semuanya masih punya D614G. Strain kita tidak ada lagi strain Wuhan D614. Hasil penelitian kami sudah zero sejak akhir April. Semuanya sudah G sekarang," ujarnya.
Selain itu, tim peneliti Unair juga menggunakan mutasi E484K yang ditemukan di negara lain. Seperti di Jepang, AS, Inggris, India dan Brazil. "Munculnya varian baru di lokasi lain sudah memperhatikan whole genome sequence yang dilakukan tim peneliti lengkap. Ini merupakan strain mutan, tapi mutan Indonesia ada D614G dan E484 tapi E-nya bukan K tapi D. Tapi lokasinya sama di sana. Ini spesifik untuk Indonesia. Kita tidak menggunakan varian dari Inggris karena mayoritas yang ada sekarang," jelasnya.
Nyoman mengatakan, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan menguji mutasi virus dari luar negeri dengan vaksin Merah Putih. "Kita berharap semua hasil efikasinya (Menakar kemampuan vaksin) tinggi. Kita juga tidak bisa menjamin sudah menggunakan strain mutan (D541G) maka efikasinya bisa tinggi. Kita tunggu dari hasil uji klinisnya," pungkasnya. (rmt/rak)
Editor : Administrator