SURABAYA-Menyimpan obat-obatan tidak bisa sembarangan. Jika sembarang, maka akan membuat obat tersebut mengalami penurunan kualitas dan menyebabkan perubahan warna pada obat itu sendiri.
Lalu bagaimana agar obat tetap bisa aman dikonsumsi dan tidak mengalami perubahan warna? Menurut Apoteker RS Ibu dan Anak (RSIA) Kendangsari, Surabaya, Yana Ramadani memberikan tips bagaimana menyimpan obat dengan baik dan benar. Yana menerangkan, obat sebaiknya diletakkan atau disimpan di tempat yang terhindar dari paparan sinar matahari langsung serta suhu lebih dari 30 derajat celcius.
Apoteker yang sudah bertugas selama dua tahun tersebut mengatakan, jika obat tidak dismpan dengan benar. Maka akan mengurangi stabilitas dan kualitas obat. “Untuk menyimpan obat di rumah harus diperlakukan khusus, agar menjaga stabilitas obat tersebut tetap dalam keadaan baik. Selain itu saat dikonsumsi oleh pasien kadarnya tidak berubah. Jadi penyimanan obat itu perlu diperhatikan point berikut,” kata Yana.
Yang pertama, lanjut Yana, sebelum membeli obat sebaiknya dicek terlebih dahulu tanggal kadalurasa obat yang akan dikonsumi. Kedua, setelah membeli obat sebaiknya disimpan ditempat yang aman dan jauhkan obat dari jangkauan anak-anak.
Sedangkan yang ketiga, simpan obat ditempat yang tertutup rapat. Misalnya, ketika membeli obat sirup. Itu harus tetap disimpan di dalam kardusnya, Yana tidak menyarankan membuang kardus obat sebelum obat tersebut habis. Keempat, simpan di ruangan sejuk dan hindari paparan sinar matahari.
“Jadi jangan disimpan di jendela atau di dalam mobil. Di jendela gitu kan bisa terpapar sinar matahari, kemudian kalau di dalam mobil itu kan suhunya tidak stabil kalau ditinggal,” ujar Yana.
Kelima, jangan lupa sebelum membeli obat melihat petunjuk pada kemasan obat. Biasanya pada kardus kemasan obat ada petunjuk minimal suhu penyimpanan.
“Misalnya, disimpan di suhu di bawah 30 derajat, biasanya itu obat antibiotik. Nah, kalau antibiotik biasanya penyimpanannya berbeda lagi sesudah dilarutkan dengan air dan antibiotik yang tidak dilarutkan dalam air. Yang terakhir harus disimpan ditempat yang tertutup rapat,” papar Yana.
Biasanya, lanjutnya, obat sirup antibiotik setelah dilarutkan ke air hanya bertahan tujuh hari. Sedagkan obat sirup antibiotik hanya bertahan lima hari, berbeda-beda. “Kalau obat sirup demam atau batuk pilek, bisa disimpat sesuai tanggal kadaluarsanya. Dengan catatan harus dicek juga dari segi rasa, kekentalan, perubahan warna, atau baunya,” ungkapnya.
Agar obat tetap berkualitas disarankan tidak menyimpan obat terlalu lama melebihi tiga bulan. Hal itu untuk menghindari risiko kontaminasi dan oksidasi.
“Setelah membeli obat bisa diberi tulisan kapan pertamakali dibuka, atau tanggal berapa sirup tersebut dibuka. Sedangkan untuk obat racikan (puyer) jangan disimpan lebih dari satu bulan. Karena racikan itu lebih dari satu obat, takutnya ada perubahan kandungan dengan pencampuran obat lain tersebut,” pungkasnya. (gin)
Editor : Administrator