Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Disambut Positif, Pembelajaran Tatap Muka Perlu Payung Hukum Jelas

Administrator • Senin, 8 Maret 2021 | 16:15 WIB
Disambut Positif, Pembelajaran Tatap Muka Perlu Payung Hukum Jelas
Disambut Positif, Pembelajaran Tatap Muka Perlu Payung Hukum Jelas

SURABAYA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan kegiatan sekolah tatap muka bisa dilakukan pada semester kedua tahun ini, atau tepatnya pada Juli mendatang. Hal ini mendapat respon positif bagi kalangan pendidikan di Jawa Timur.


Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sidoarjo–Surabaya Lutfi Isa Anshori menyambut baik kebijakan pemerintah pusat terkait sekolah tatap muka. Menurutnya hal kebijakan tersebut memang ditunggu oleh masyarakat. "Namun untuk saat ini belum ada pembahasan di tingkat Dinas Pendidikan Jatim terkait teknis pelaksanaan kebijakan tersebut," ujarnya saat dihubungi Radar Surabaya melalui ponselnya, Minggu (7/3).


Lutfi mengatakan saat ini sistem pembelajaran masih menggunakan daring,  sesuai dengan regulasi pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.  Menurutnya jika kebijakan tersebut memang diterapkan bulan Juli mendatang, harus ada regulasi maupun payung hukum yang jelas.  "Kemudian yang harus disiapkan juga adalah sekolah dan para guru-gurunya," katanya.


Sementara itu anggota Dewan Pendidikan Jatim Isa Ansori mengatakan sangat mendukung kebijakan Pemerintah Pusat tersebut.  Menurutnya kebijakan ini merupakan wujud memberikan kepastian kepada masyarakat. "Karena selama pandemi Covid-19,  pendidikan kita belum mendapat kepastian kapan akan digelar sekolah tatap muka," ungkapnya. 


Menurutnya pernyataan bahwa sekolah tatap muka akan dibuka bulan Juli itu tidak cukup, harus ada persiapan secara teknisnya. Misalnya guru dan siswa harus dipastikan sehat, kemudian sarana dan prasarana sekolah juga harus menerapkan protokol kesehatan.  "Hanya saja kalau ini dibebankan ke sekolah tentu akan menjadi persoalan, saya kira pemerintah harus hadir dan bersinergi. Yakni memerintahkan kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten terkait kesiapan sekolah tatap muka," tuturnya.


Isa mengatakan proses pendidikan daring selama pandemi Covid-19 ini tidak maksimal.  Karena menurutnya fasilitas pendidikan tidak memenuhi. "Selama ini sistem pendidikan dilakukan secara konvensional dengan metode tatap muka di sekolah.  Nah kemudian karena pandemi dipindahkan kerumah dengan cara online atau daring.  Secara fasilitas tentu tidak memenuhi,  orang tua tidak selalu ada untuk mendampingi,  kemampuan alat,  ekonomi, dan pengetahuan tidak sama satu dengan yang lain sehingga sangat tidak efektif," paparnya.


Meski demikian,  Isa mengatakan kedepan dua metode pembelajaran ini harus dikombinasikan. Yakni metode tatap muka dan metode daring. "Karena kita tidak tahu kapan pandemi Covid-19 ini berakhir.  Sehingga dengan dua metode ini tugas mencerdaskan anak bangsa bisa dilakukan dengan baik," katanya.


Terpisah Ketua DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti menyambut positif rencana Pemprov Jatim yang mewacanakan tes GeNose bagi siswa dan guru sebelum masuk ke sekolah. Senator Dapil Jatim ini menilai selain murah, tes GeNose untuk mendeteksi Covid-19 cukup efektif dan praktis. "Tetapi harus secara rutin. Bisa setiap Senin dan Jumat. Sehingga benar-benar terukur, dan terdeteksi. Dan biayanya jangan dibebankan ke sekolah. Harus ada mekanisme pembiayaan yang dicover dari anggaran pemerintah," jelasnya.


Menurutnya, dalam konteks kepentingan massal seperti sekolah, diperlukan cara yang cepat, murah namun tanpa mengabaikan tingkat akurasi. “Saya pikir sudah tepat menggunakan metode tes GeNose. Karena cepat dan murah dan tingkat akurasinya juga sudah diuji. Bahkan sekarang digunakan sebagai syarat untuk penumpang kereta api,” imbuh alumnus Universitas Brawijaya Malang tersebut.


Selain tes GeNose, alternatif lain yang bisa digunakan untuk para siswa menurut mantan Ketua Umum Kadin Jatim ini adalah menggunakan tes Covid-19 Saliva yang menggunakan air liur sebagai media uji. Selama ini di Jatim jika ada kegiatan dan harus tatap muka ke sekolah maka siswa wajib menyertakan hasil bebas Covid-19 berbasis SWAB Antigen. "Tes SWAB Antigen ini biayanya cukup mahal. Tentu hal ini dapat menghambat proses belajar mengajar. Harus ada jalan keluar. Tes GeNose atau Saliva yang berbiaya murah, cepat dan akurat saya kira bisa dijadikan alternatif solusi," tegasnya.  (mus)


Editor : Administrator
#sekolah tatap muka #pembelajaran tatap muka