Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Temui Pendemo RS Darurat di Cito, Whisnu Minta Pembatas Dinding ke Mal

Administrator • Kamis, 11 Februari 2021 | 17:37 WIB
Temui Pendemo RS Darurat di Cito, Whisnu Minta Pembatas Dinding ke Mal
Temui Pendemo RS Darurat di Cito, Whisnu Minta Pembatas Dinding ke Mal

SURABAYA-Aksi penolakan rumah sakit darurat di mal Cito oleh warga dan penghuni apartemen dan mal Cito kembali dilakukan, Rabu (10/2). Secara bersamaan Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana meninjau kembali rumah sakit darurat yang bertempat diperbatasan Surabaya-Sidoarjo tersebut. 


Whisnu pun langsung menghampiri massa yang jumlahnya puluhan itu. Tak hanya mendengarkan aspirasi massa pendemo, pria yang akrab disapa WS itu juga diajak oleh massa untuk melihat langsung pembatas antara mal dan rumah sakit darurat Covid-19.


Kemudian WS langsung menemui pihak Siloam Hospital Grup. “Saya kan sudah bertemu dengan pihak Siloam dan saya mewakili warga juga. Jadi, saya sudah sampaikan semuanya tentang keluhan warga,” kata WS.


Ia juga meminta kepada pihak Siloam untuk memberikan pemahaman kepada warga. Bahkan, apabila pihak Siloam ingin mengajak perwakilan warga untuk meninjau langsung ke dalam, ia mempersilahkan karena itu merupakan salah satu cara mereka. “Kita tidak akan memberikan izin kalau semuanya belum clear,” katanya.


WS menuturkan, sejak awal mau mendirikan rumah sakit darurat Covid-19 itu, ia meminta warga sekitar harus sepakat dulu karena itu berbatasan langsung dengan apartemen dan mal. Bahkan, saat itu ia juga meminta pembatasnya harus tegas, dalam artian pembatasnya itu harus menggunakan dinding bukan partisi.


Bahkan ketika Bed Occupancy Rate (BOR) ICU di Surabaya 100 persen dan bertahan selama dua minggu, ia mengaku memang kepikiran untuk membuat rumah sakit darurat Covid-19. Sebab, saat itu Surabaya memang membutuhkannya. Namun begitu, sekarang kondisinya sudah berubah. BOR ICU Surabaya sudah turun, sehingga nanti telaahnya perlu diperdalam.


“Nah, tadi kan masih ada pembatas yang tidak tegas. Makanya saya tadi juga sudah sampaikan, saya kecewa kalau begitu. Bagi saya, persyaratan utama adalah persetujuan warga sekitar, karena bagi saya keselamatan warga adalah hukum tertinggi, warga itu yang harus kita selamatkan dulu,” katanya.


WS menegaskan apabila pihak Siloam sudah mengatakan warga sudah sepakat, ia mengaku akan mengundang warga ke Balai Kota Surabaya untuk menanyakan langsung tentang kesepakatannya.


“Saya sudah persyaratkan, kalau pun nanti harus buka rumah sakit ini, tetap harus mendapatkan persetujuan dari warga sekitar, penghuni apartemen dan pemakai tenan. Itu harus diselesaikan dulu, kalau tidak, saya tidak akan membuka ini,” tegasnya.


Sementara itu massa menolak rumah sakit darurat Covid-19 itu karena sangat berdekatan sekali dengan mal. Selain itu, pihak Siloam juga sebelumnya tidak ada sosialisasi. Salah satu massa pendemo M. Yazid keberatan ketika Cito digunkan untuk rumah sakit darurat Covid. Karena keberadaan itu memberi dampak ekonomi kepada pemilik usaha di mal Cito. "Ini sentra ekonomi. Sekarang income kita nol karena nggak ada pengunjung. Di satu sisi kita tetap harus bayar service charge kalau telat bayar ya ditutup," ungkapnya.


Yazid pun mendesak Pemkot Surabaya untuk tidak mengeluarkan izin operasional untuk rumah sakit darurat kepada pihak Siloam. "Sejak 2014 sampai 2019 Bu Risma sudah menolak ini untuk dijadikan rumah sakit. Jangan sampai pak Whisnu memberikan izin. Jadi kami minta tolong pak dibantu," pungkasnya. (rmt/nur)


Editor : Administrator
#whisnu sakti buana