SURABAYA-Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tahap pertama pada 11-25 Januari sudah membuahkan hasil. Ini terlihat dari penurunan kasus Covid-19 di Jatim. Selain itu, penurunan juga terjadi pada keterisian tempat tidur di rumah sakit.
Ketua Gugus Kuratif dr Joni Wahyuhadi mengatakan, selama PPKM tahap pertama Covid-19 di Jatim bertambah 14.437 kasus baru. Sedangkan pasien sembuh bertambah 12.213 dan pasien yang meninggal dunia bertambah 999. "Untuk PPKM tahap selanjutnya, ada beberapa hal yang perlu ditekankan. Yakni penguatan peran masyarakat seperti kampung tangguh, operasi yustisi untuk penegakan protokol kesehatan, dan penguatan 3T (tracing, testing, treatment)," ujar Joni Wahyuhadi, Senin (25/1).
Direktur Utama RSUD dr Soetomo itu menambahkan, ada empat parameter selama PPKM. Yakni apakah ada penurunan kasus aktif, penurunan angka kematian, penurunan kasus baru, dan peningkatan angka kesembuhan. "Secara epidemiologi kabupaten/kota di Jatim sudah bagus, cuma ada yang perlu penekanan," katanya.
Lebih lanjut Joni mengatakan, bed occupancy ratio (BOR) di ruang isolasi dan intensive care unit (ICU) mulai menurun. Sebelum PPKM keterisian bed mencapai 79 persen, kini turun menjadi 69 persen. "Sesuai protokol kesehatan yang ada untuk saran pelayanan bagi masyarakat terdampak Covid-19, ada ruang karantina, isolasi, rumah sakit darurat, dan rumah sakit rujukan," jelasnya.
Saat ditanya sempat meningkatnya kasus Covid-19 di Jatim, Joni mengatakan banyak hipotesisnya. Salah satunya, bisa jadi karena banyaknya jumlah orang tanpa gejala (OTG) yang beraktivitas di luar atau tidak melakukan isolasi. "Kami mengusulkan agar Jatim menyediakan Laboratorium Biosafety Level 3. Hal itu berguna untuk memastikan pasien yang positif tanpa ada gejala klinis kemudian dilakukan tes kultur, untuk mengetahui apakah masih berpotensi menularkan atau tidak," katanya.
Joni mengatakan, OTG adalah orang yang terpapar Covid-19 saat kondisi daya tahan tubuhnya cukup kuat. Meski demikian, OTG dianggap berbahaya dan tetap diharuskan menjalani isolasi mandiri karena masih dapat menularkan virusnya. "Jika OTG memang tidak menunjukkan gejala klinis, tentu tidak perlu menjalani perawatan medis. OTG hanya perlu menjalani isolasi mandiri selama 14 hari untuk menghindari penularan terhadap orang lain," katanya.
Sementara itu, Juru Bicara Gugus Kuratif Covid-19 dr Makhyan Jibril Al Farabi mengatakan, kasus Covid-19 mulai mengalami penurunan. "Memang awalnya sempat naik, lalu turun. Selain itu, mobilitas warga berkurang 13 persen dibanding sebelum PPKM. Tapi, angka itu masih jauh dari target pusat 40 persen," katanya. (mus/rek)
Editor : Administrator