SURABAYA-Kenaikan harga kedelai impor dan lokal membuat produsen tempe kelabakan. Bahkan, di Surabaya sejak 1 Januari 2021 penjual tempe di pasaran sangat terbatas. Namun, produsen tempe di Tenggilis Kauman Gang Buntu, Surabaya, masih produksi meski kedelai langka di pasaran.
Salah satu pembuat tempe di Tenggilis, Nur, mengatakan, meski harga kedelai naik, dirinya masih membuat tempe. Bahkan, ada sales kedelai sering menawarkan kedelai impor. Nur menyebut langkanya pasokan tempe di pasaran karena ada beberapa kelompok yang tidak produksi selama beberapa hari.
"Kabarnya ada paguyuban tempe yang tidak produksi, tapi di kampung ini (Tenggilis) tetap produksi. Kami murni pembuat tempe asli Surabaya," tegas produsen tempe generasi ketiga tersebut.
Nur menjual tempe dengan harga eceran Rp 8 ribu, sedangkan per kilonya sekitar Rp 60 ribu. Nur tidak hanya membuat tempe, tapi juga keripik tempe. "Hasil kerepik tempe lumayan untuk makan sehari-hari," ungkapnya.
Saat ini sebagian bahan baku tahu dan tempe diimpor dari Amerika, Brasil, Tiongkok, dan beberapa negara subtropis. Pada 2019, Indonesia mengimpor 2,63 ton kedelai untuk tahu dan tempe. Sedangkan kedelai lokal hanya 400-500 ribu ton. Hal ini membuat pengusaha tempe rentan terdampak fluktuasi harga kedelai.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengakui saat ini harga kedelai melonjak di pasaran. Karena itu, pihaknya berkoordinasi dengan kementerian perdagangan agar pembuat tempe di Surabaya mendapat pasokan kedelai. "Saat ini ada kenaikan kedelai sekitar 30 persen. Kedelai impor saat ini Rp 9 ribu, sedangkan kedelai lokal Rp 8 ribu," katanya.
Wiwiek menjelaskan, kenaikan kedelai lokal terutama dipicu oleh musim hujan. Karena itu, pihaknya akan mencarikan pemasok kedelai untuk para pembuat tempe binaan disdag. Tempe binaan tersebut antara lain di Tenggilis dan eks Dolly. "Jadi, pembuat tempe tetap berproduksi," pungkasnya. (rmt/rek)
Editor : Administrator