Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pembelajaran Tatap Muka, Sekolah Tak Boleh Bebani Orang Tua dan Siswa

Administrator • Rabu, 16 Desember 2020 | 01:33 WIB
Pembelajaran Tatap Muka, Sekolah Tak Boleh Bebani Orang Tua dan Siswa
Pembelajaran Tatap Muka, Sekolah Tak Boleh Bebani Orang Tua dan Siswa
SURABAYA - Simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) 14 sekolah jenjang SMP yang menjadi pilot project untuk sekolah tatap muka akan berakhir pada Minggu ini setelah dimulai pada 7 Desember lalu. Namun sebelum dilakukan pembelajaran tatap muka pada Januari mendatang.

Dewan Pendidikan Kota Surabaya Martadi mengatakan, perlu ada evaluasi lagi sebelum adanya pembelajaran pada Januari mendatang, terutama yang harus dipersiapkan ketika nantinya anak akan masuk sekolah. Meski hanya separuh jumlahnya, namun pihak guru akan bertambah bebannya. Karena harus mempersiapkan dua pembelajaran, yakni di sekolah maupun di rumah.

"Ini yang menjadi beban berat guru, kalau nggak hati-hati dan menjaga kesehatan malah menjadikan imun tubuh turun karena harus menyiapkan dua pembelajaran sekaligus," katanya.

Selain itu, guru yang mengajar di sekolah juga umurnya dibatasi. Untuk yang usia 50 ke bawah diwajibkan untuk mengajar di sekolah sedangkan yang usia 50 ke atas harus melakukan pembelajaran untuk siswa yang belajar daring. "Untuk guru yang senior (usia 50 ke atas) harus disiapkan aplikasi yang memudahkan dalam mengajar karena usia tersebut cenderung masih menyesuaikan dalam teknologi saat ini," jelasnya.

Martadi menegaskan, pasca simulasi PTM, pihak sekolah maupun pihak Dispendik Kota Surabaya harus melakukan evaluasi menyeluruh, misalnya kendala apa, apakah ada perkembangan fluktuasi yang tenjangkit selama simulasi. "Artinya bisa saja ketika belum siap dalam simulasi atau tidak siap jangan dipaksakan dulu untuk tatap muka. Artinya tidak berlaku Surabaya secara total tetapi harus dilihat betul kesiapan sekolah, dan izin dari orang tua," tegasnya.

Martadi melanjutkan, terkait orang tua yang tidak bisa mengantarkan selama sekolah karena tidak punya waktu, menurutnya pihak sekolah tidak boleh memberatkan beban orang tua dan harus melayani siswa selama di rumah dengan daring.

"Jadi ada pilihan belajar. Bahkan orang tua apabila tidak setuju tidak boleh dipaksa dan harus dipahami oleh pihak sekolah. Sehingga tidak menambah beban orang tua dan anak dalam belajar," jelasnya.

Kepala sekolah SMP 17 Agustus 1945 Wiwik Wahyuningsih mengatakan, selama simulasi PTM, pihaknya menjalankan sesuai dengan prokes yang telah ditentukan. "Memang ada sedikit catatan tidak semua anak bisa dijemput dan diantar orang tau hal ini menjadi sangat riskan," katanya.

Karena itu siswa diizinkan orang tua untuk mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah. Jika naik kendaraan umum berisiko akan terpapar Covid-19.

Selama PTM peraturan dan penjagaan sekolah sangat ketat. Siswa yang datang langsung menjalani cek suhu. Begitu juga saat pulang. Jika ada perubahan suhu yang signifikan siswa yang bersangkutan akan dievaluasi. "Alhamdulillah sampai saat ini belum ada,"imbuhnya

Kendala lain dalam PTM yakni keterbatasan SDM pasalnya pendidik yang diutamakan berusia di bawah 50 tahun. "Sementara banyak sekolah yang gurunya berusia di atas 50 tahun. Padahal tenaga pengawas (guru) di sekolah lebih ekstra jadi butuh tenaga guru yang lebih banyak," jelasnya.

Belum lagi siswa yang ingin ke kamar mandi harus diawasi. Begitu juga ketika di depan gerbang. Tidak cukup satu guru yang bertugas untuk mengecek suhu. (rmt/nur) Editor : Administrator
#sekolah tatap muka #orang tua dan siswa #pembelajaran tatap muka