Di dalam Basecamp17 ini, para mahasiswa dan masyarakat bisa menikmati segala makan khas Jepang. Bahkan pelayannya pun juga memakai berbagai kostum maid khas anime Jepang.
“Kafe ini menyajikan layanan konsumen dengan konsep pelayan atau maid ala Jepang,” kata Penanggung jawab acara, Hans Rudolf Gustav Kandou, Senin (7/12).
Hans juga menjelaskan, para maid yang bertugas melayani konsumen mulai dari pemesanan dan pengantaran makanan, saat makanan diantar mereka juga akan menunjukkan chant, semacam mantra dengan gaya imut mereka.
“Tak hanya itu, para maid juga bisa menemani pelanggan untuk berbincang dan karaoke terbuka dengan beragam lagu di kafe,” ujar Hans.
Hans mengatakan, membutuhkan waktu selama sebulan untuk menyusun konsep dan mencari tim yang terlibat dalam Claire Maid Cafe ini. Hans mengaku sudah memiliki 12 orang mahasiswa Sastra Jepang alam timnya.
"Baju maid kami sediakan, jadi yang bertugas menjadi maid tinggal berdandan dan stand by di kafe dari pukul 13.00 sampai pukul 19.00,"ujarnya.
Ia berharap, dengan mengusung konsep kafe ala Jepang selama beberapa hari dapat mengenalkan masyarakat akan eksistensi budaya Jepang. Serta mengenalkan berbagai kegiatan yang dilakukan pecinta budaya Jepang.
“Kami juga menggandeng beberapa komunitas untuk meramaikan acara. Konsep maid cafe ini juga dilakukan oleh mahasiswa sastra Jepang yang berdomisili di Malang dengan kerja sama kafe di sana,” tutupnya.
Disamping itu manajemen Basecamp17, Lia Rahma mengungkapkan, secara berkala kafe yang dikelolanya untuk wadah bagi komunitas mahasiswa ataupun untuk umum. Hal ini sebagai upaya mengenalkan kembali Basecamp17 di masa pandemi.
“Kami mulai menjangkau konsumen melalui beberapa event. Karena Basecamp17 dibuka sebulan sebelum pandemi, jadi butuh upaya ekstra untuk mengenalkan lagi kepada masyarakat,” kata Lia. (gin/nur) Editor : Administrator