Menurut Adrian, ia menciptakan VD-BOX setelah melihat adanya kesulitan dalam melakukan pendistribusian obat-obat kesehatan. Terutama di wilayah-wilayah yang berada di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di Indonesia.
Menurut data, tingkat kesehatan penduduk di wilayah 3T ini rendah. “Lebih dari 20 persen penduduknya mengalami malnutrisi, sehingga tingkat kesehatannya rendah,” katanya. Dengan tingkat kesehatan yang rendah tersebut, Adrian khawatir pengadaan vaksin di daerah 3T akan sangat sulit mengingat kondisi sarana dan prasarana yang terbatas.
“Dari situ saya berpikir, berarti nanti ketika vaksin Covid-19 masuk, bukankah akan sulit untuk mendistribusikan ke daerah 3T dengan tingkat kesehatan yang rendah?” ungkapnya.
Selain itu, motivasinya dalam menciptakan kotak untuk pendistribusian vaksin juga timbul karena pemerintah Indonesia telah memesan 100 juta vaksin melalui perusahaan farmasi AstraZeneca saja. Sementara kotak distribusi vaksin yang ada saat ini memiliki ukuran sangat besar dengan harga yang mahal.
Dari pemikiran itu, Adrian menggagas ide untuk menciptakan kotak distribusi vaksin yang murah namun tetap memenuhi standar keselamatan dan kesehatan dari WHO. VD-BOX yang telah dikembangkannya selama enam bulan ini bekerja dengan menjaga kestabilan suhu di dalam kotak antara 2-8 derajat celcius dengan rentang waktu selama 15 jam sesuai dengan standar penyimpanan vaksin.
Adrian mengaku penemuannya berfokus pada bagaimana cara untuk bisa mendistribusikan vaksin dalam rentang waktu yang tinggi, tetapi dengan komponen yang ramah lingkungan. “Untuk VD-BOX, saya menggunakan HDPE daur ulang. Bahkan ini merupakan bahan yang saya buat supaya aspek ramah lingkungannya tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, komponen pendingin yang dimiliki VD-BOX dibuat dengan menggunakan alat pendingin termoelektrik yang disebut peltier dan mengombinasikannya dengan ice pack blue gel yang merupakan produk yang mampu menyerap serta menyimpan hawa dingin dan bisa mempertahankan kebekuan suatu benda.
Dalam menjaga ketahanan daya VD-BOX, Adrian juga mengintegrasikan hybrid energy resources yaitu pengisian daya yang bisa dilakukan dengan menggunakan panel surya atau sumber listrik biasa. “Jadi panel surya ini bisa diletakkan di daerah-daerah 3T. Tapi tidak hanya panel surya, alat ini juga bisa melakukan pengisian daya seperti alat elektronik biasanya,” jelasnya.
VD-BOX rancangan Adrian juga dilengkapi dengan tas yang memiliki insulator yang bisa menjaga kestabilan suhu supaya tahan lama. “Alat ini juga menggunakan ide dan konsep untuk selanjutnya bisa melakukan steriliasasi bagian dalam kotak dengan menggunakan pencahayaan UV-C,” jelasnya. (rmt/jay) Editor : Administrator