Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara mengatakan, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Surabaya langsung melakukan tracing pada siswa tersebut. Tracing pada kontak erat saat ini terus dilakukan untuk mengetahui kontak erat yang pernah dilakukan oleh siswa tersebut. Termasuk bakal dilakukan pemeriksaan pada kontak erat keluarga. “Tentu keluarganya juga akan dilakukan tes karena kontak eratnya dari siswa yang positif ini,” ungkapnya.
Untuk proses isolasi, pihaknya akan memperhatikan hasil assesment. Bakal dinilai rumah pelajar yang terpapar itu apakah memungkinkan untuk melakukan isolasi mandiri. Tapi jika tidak memungkinkan maka akan dibawa ke Asrama Haji. "Treatmentnya melakukan tracing dengan klauraga maupun ketika nanti di-assesment maka diberikan arahan untuk tidak dilaksanakan isolasi mandiri. Tentu keluarganya juga dilakukan testing," jelasnya.
Menurut Febri, dari 4.760 pelajar kelas IX di 17 SMP Surabaya yang mengikuti tes swab sebanyak 3.627 pelajar. Namun pihaknya masih belum menyimpulkan secara pasti berapa yang terpapar pasca swab. Karena, ada pelajar yang memilih melakukan tes swab mandiri dan ada yang orang tuanya belum setuju sekolah tatap muka. “Dari data itu, ternyata ada 36 pelajar yang positif (Covid-19) atau sekitar 1 persen dari jumlah total,” ungkapnya.
Dengan hasil tes swab terdapat pelajar yang terkonfirmasi Covid-19, maka menjadi pertimbangan penting untuk evaluasi tim Satgas Covid-19, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan untuk persiapan sekolah tatap muka. “Kami menyelenggarakan swab test bukan rapid test sehingga bisa membuka keterbukaan penanganan Covid-19. Kami sangat hati-hati. Ini menjadi kajian persiapan sekolah tatap muka,” jelasnya.
Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang pembelajaran tatap muka bisa dilakukan pada awal Januari 2021 dengan tidak melihat zona. "Tapi kita melihat kalkulasinya gimana, apakah di Desember ini atau kembali ke Januari (2012) karena kita lihat ada yang positif (siswa)," pungkasnya. (rmt/jay) Editor : Administrator