Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pembelajaran Daring Tak Maksimal, Guru dan Ortu Tak Siap

Administrator • Selasa, 8 September 2020 | 08:30 WIB
Pembelajaran Daring Tak Maksimal, Guru dan Ortu Tak Siap
Pembelajaran Daring Tak Maksimal, Guru dan Ortu Tak Siap

SURABAYA–Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan memaksa pemerintah mengadakan kegiatan belajar mengajar dalam jaringan (daring). Namun, pembelajaran daring yang sudah berlangsung dua bulan itu dinilai kurang efektif. Banyak wali murid dan peserta didik yang mengaku sulit menangkap materi pelajaran.


Pemerhati pendidikan Isa Anshori menilai pembelajaran daring selama ini ternyata tidak maksimal. Selain guru-guru tidak maksimal dalam pemberian materi pelajaran, orang tua juga tidak siap. “Okelah, kuota saat ini ada bantuan. Namun, pendampingan anak di rumah tidak maksimal,” ujar Isa Anshori di Surabaya, Minggu (6/9).


Isa mengingatkan, pendidikan dan kesehatan sangat penting. Pendidikan yang terbaik dilakukan di sekolah. Selain itu, protokol kesehatan di sekolah lebih terjamin karena ada pengawasan. Fasilitas berupa hand sanitizer, tempat cuci tangan, kewajiban pakai masker, jaga jarak bisa ditegakkan di sekolah.


"Lalu, jam masuknya tidak penuh. Sehari hanya tiga jam. Itu pun siswanya harus digilir. Ini harus dipastikan dulu. Kalau sudah dipastikan dengan sosialisasinya,” paparnya.


Menurut Isa, pemerintah mengumumkan sekolah akan dibuka adalah kepastian di antara ketidakpastian. Pasalnya, semua tidak tahu kapan Covid-19 akan berakhir. “Pemerintah bisa memetakan mana yang siap mana yang tidak siap untuk membuka sekolah. Terlebih dari data proges kesembuhan Covid-19 sudah diatas 80 persen, sehingga kebijakan harus diubah," katanya.


Sementara itu, Ketua DPD I Golkar Jawa Timur Sarmuji mengatakan, salah satu sektor yang paling terkena dampak Covid-19 adalah pendidikan. Salah satunya adalah perubahan metode penyampaian pembelajaran dari tatap muka beralih menjadi dalam jaringan (daring).


"Tentunya ini merupakan sistem pembelajaran yang baru bagi kita semua. Tak terkecuali pendidikan dasar (SD). Ini bukan persoalan mudah. Anak didik dalam metode daring jika tidak mendapatkan materi dengan cara yang bagus, maka akan sama seperti meme yang beredar di media sosial," ujar Sarmuji saat membuka webinar dan pelatihan peningkatan kompetensi guru SD dalam era pendidikan daring.


Menurut dia, tantangan bagi guru adalah menyampaikan materi dengan cara yang baik dan tidak membosankan. Sebab, murid-murid SD belum mengerti pembelajaran metode daring. “Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru untuk memberikan inovasi dan kreativitas dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,” jelasnya.


Sarmuji mengatakan, sangat berisiko jika memaksakan pembelajaran tatap muka untuk SD. Meskipun banyak siswa yang kangen dengan guru dan teman-temannya. “Tapi keburukan harus dihindari daripada mendapatkan manfaat. Menghindari sekolah menjadi klaster baru menjadi wajib. Kita harus mempertahankan daring hingga siap masuk lagi seperti biasa,” katanya. (mus/rek)


Editor : Administrator