SURABAYA - Penerapan protokol kesehatan untuk memutus penyebaran virus Covid- 19 rupanya belum dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat. Seperti yang terlihat pada antrian penerimaan Bantuan Sosial Tunai (BST) yang dilakukan di Kantor Pos Besar Surabaya, Jalan Kebon Rojo.
Dari pantauan di lokasi, warga Banyu Urip, Kecamatan Sawahan mengantre sejak pagi. Meskipun menggunakan masker, tampak dari antrean tersebut mulai dari usia lanjut, dewasa hingga anak-anak rela berdesakan. Mayoritas warga ini mengaku takut tertular, namun mereka juga membutuhkan bantuan tersebut.
Sementara itu anggota DPRD Jatim Fraksi PDIP Armuji yang melihat langsung pembagian BST di Kantor Pos Besar Surabaya itu menyayangkan tidak adanya penerapan phisycal distancing. Padahal menurutnya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah mewanti wanti agar masyarakat menjalankan protokol kesehatan dalam aktifitasnya. "Ternyata masih bekum dilaksanakan. Ini cukup berpotensi menimbulkan klaster baru penyebaran Covid-19,” ujarnya.
Mantan Ketua DPRD Kota Surabaya ini menambahkan sebenarnya pihak Kantor Pos telah menyediakan tenda terbuka di luar gedung kantor pos untuk masyarakat yang antre mengambil BST. Namun tenda tersebut tidak bisa menampung antrean masyarakat. Akibatnya banyak masyarakat yang berteduh di tempat lain yang akhirnya menimbulkan kerumunan.
“Ini berbeda dengan masyarakat yang berada di dalam gedung, masih terlihat physical distancing dijalankan dengan baik. Tapi mereka yang menunggu antre di luar, ini yang tidak menghiraukan physical distancing. Mereka bergerombol mengabaikan protokol kesehatan. Mereka menerima uang Rp 600.000, tapi kalau mereka membawa virus dan bisa menularkan ke orang lain ini justru lebih celaka daripada uang Rp 600.000 yang mereka ambil,” ungkapnya.
Anggota Komisi A DPRD Jatim ini, juga menemukan adanya bilik disinfektan yang hanya menjadi pajangan serta tempat cuci tangan yang tidak maksimal untuk melayani orang yang antri untuk mengambil BST tersebut. Armuji meminta Kepala Kantor Pos Besar Surabaya Kebon Rojo agar melakukan evaluasi dan perbaikan, sebelum muncul klaster baru penyaluran BST di kantor pos.
Sementara itu Kepala Kantor Pos Besar Surabaya, Kebon Rojo, Dino Ariyadi, mengatakan bahwa penyaluran BST kali ini adalah tahap kedua. Dibuka sejak pukul 07.00 Wib sampai 17.00. "Total yang kita bayarkan itu 178.000 orang dan harus diselesaikan dalam waktu sembilan hari. Rata-rata dalam sehari sekitar 20 ribu orang yang harus kita bayarkan,” jelasnya.
Dino mengatakan penyaluran tahap kedua ini memang sengaja dipercepat lantaran memang dari Kemensos mengharapkan daya serapnya tinggi. Mulai bulan April, Mei dan Juni. “Karena Kemensos terlambat menyerahkan datanya ke kami, maka dipercepat agar target pemerintah terserap sampai akhir Juni. Tahap dua ini kami batasi sampai minggu besok. Karena setelah itu masuk ke tahap tiga. Sehingga genap nanti tahap satu sampai tiga bisa selesai di bulan Juni,” jelasnya.
Terkait sorotan abaikan protokol kesehatan, pihaknya kata Dino mencoba terus memperbaiki. Pihaknya juga mengucapkan terimakasih lantaran sudah diingatkan. “Ada air yang belum terisi, ini menjadi bahan instropeksi kami. Kemudian tenda, sebenarnya hari ini ada tambahan tenda 2 lagi, tapi belum sampai juga,” ungkapnya.
Dino mengaku sudah mengatur jam penyaluran BST tiap wilayah. Meski demikian, Dino tidak bisa menghambat orang yang sudah terlanjur datang sebelum jam pengambilan. "Tapi yang namanya orang, jika tidak sesuai jamnya sudah datang, kita suruh pulang. Dia bilang sudah terlanjur disini. Tapi efeknya jadi terlihat berkerumun. Ini menjadi salah satu kesulitan bagi kami. Kita pingin tegas menerapkan protokol kesehatan, tapi sisi lain mereka sudah terlanjur datang lebih awal,” ujarnya.
Lebih lanjut Dino mengatakan ada 120 petugas yang telah disebar di 15 lokasi di Surabaya untuk memecah kerumunan. Mulai juru bayar hingga tenaga keamanan sudah disiapkan. "Nah, yang disini jumlah keluarga penerima manfaat (KPM) jumlahnya yang banyak. Kalau kecil bisa dibayarkan di kantor pos lainnya,” pungkasnya. (mus)
Editor : Administrator