SURABAYA - Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jawa Timur meminta masyarakat tidak lagi khawatir untuk mengkonsumsi telur ayam. Dinas ini berupaya menjamin kualitas dan mutu produk unggas yang beredar di Jatim.
Kepala Disnak Jatim Wemmi Niamawati menegaskan, terkait berita yang sempat viral, tidak bisa menjadi acuan kalau seluruh telur di Jatim beracun. Sebab, telur yang diteliti bukan dari sentra peternak tapi ayam kampung.
“Nah telur yang dikonsumsi di Jatim dari ayam ras petelur yang memeliharanya secara intensif di kandang. Semua dipantau, kemudian pakan memenuhi standar,” jelasnya.
Selain itu, ia juga memberikan surat edaran kepada tujuh sentra ayam di Jatim yakni Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Kediri, Tulungagung, Magetan, dan Blitar untuk melakukan gerakan makan telur bersama. Kegiatan tersebut untuk memastikan bahwa telur ayam tidak mengandung dioksin maupun beracun.
Gerakan makan telur bersama ini juga dilakukan di kalangan dinas yang digelar sejak Senin (18/11) dengan melibatkan Dinas Pertanian Jatim dan 10 Unit Pelaksana Teknis. “Kegiatan tak hanya diikuti oleh karyawan dinas saja, tapi harus diikuti juga oleh masyarakat serta para peternak untuk sama-sama menjamin keamanan dari hasil peternakan yang dilakukan sesuai standar,” terangnya.
Wemmi mengatakan, untuk memastikan keamanan telur ayam yang ada di peternakan, banyak hal yang dilakukan Disnak Jatim. Di antaranya sertifikasi kompartemen bebas penyakit flu burung di seluruh breeding farm yang memproduksi bibit untuk ayam petelur dan pedagang final stok (komersial). Kemudian dilanjutkan sertifikasi bebas penyakit Pullorum untuk induk ayam yang menghasilkan bibit yang akan diedarkan ke masyarakat. “Untuk pengambilan dan pengujian sampel telur dan daging unggas dilakukan Laboratorium Kesehatan secara periodik,” katanya.
Lebih lanjut Wemmi mengatakan, Disnak menerapkan bio security tiga zona untuk mendukung good farming practices, sehingga telur dan daging unggas terbebas dari penyakit berbahaya.
“Surveillance penyakit hewan oleh petugas participatory disease surveillance and response (PDSR) untuk ayam kampung, dan petugas pelayanan unggas komersial (PVUK) untuk peternakan unggas komersial,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jatim Kohar Hari Santoso juga mengimbau agar tidak terlalu khawatir dengan isu telur ayam yang disebut-sebut mengandung dioksin. Menurutnya, ini hanya di salah satu daerah dan jumlahnya tidak banyak.
“Karena memang bukan peternakan. Jadi tidak bisa dipukul rata, ayam ini dekat sampah artinya mengandung dioksin. Harus dilihat dalam kadar dioksinnya dulu berapa,” katanya.
Dioksin secara kimiawi bernama triclocarban (TCC). Zat dioksin juga bisa ada pada makanan dalam jumlah rendah ataupun banyak. Kohar mengatakan dioksin yang dikonsumsi dalam kadar cukup tinggi bisa berpengaruh pada kesehatan seperti masalah kulit, juga pada lapisan dalam rahim wanita yang mengakibatkan nyeri bahkan kanker. “Dioksin tidak hanya dari plastik tapi juga dari gas pencemaran udara,” pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Administrator