SURABAYA– Kawasan Putat Jaya yang dulu dikenal sebagai lokalisasi, sekarang penampakannya sangat berbeda. Berdiri bermacam-macam UKM (Usaha Kecil Menengah). Batik menjadi salah satunya. Tepatnya di Gang VIII B berdiri pusat galeri seni batik.
Kegiatan membatik mulai digalakkan sejak tahun 2014. Warga sekitar mendapatkan binaan dari Dinas Perdagangan Pemerintah Kota Surabaya. Sengaja diperuntukkan untuk warga yang terdampak pembubaran lokalisasi Dolly.
Seiring perkembangan waktu ternyata respon masyarakat Surabaya sangat besar. Kunjungan dari akademisi dan wisatawan terus mengalir. Tahun 2018 rumah kreatif Putat Jaya ini diuji cobakan menjadi rumah produksi batik warga setempat lewat batik cap.
“Akhirnya rumah batik ini dibuka untuk umum oleh Ibu Walikota. Ternyata bukan hanya membatik, sering dijadikan tempat penelitian,” ungkap Pembina Rumah Kreatif Batik, Mulyadi Gunawan, Senin (4/3).
Harga batik tulis disana dibanderol dengan harga Rp 250 ribu sampai Rp 5 juta rupiah. Harga Rp 1 juta dengan ukuran kain minimal Rp 2,5 meter. Kain batik dengan harga Rp 250 ribu punya panjang kain rata-rata 2 meter.
Saat wartawan koran ini mengunjungi rumah batik kemarin, terlihat ibu-ibu yang terbina dalam kelompok UKM sedang mengerjakan pesanan kain batik dari Dinas Kesehatan sebanyak 130 lembar.
Saat ini sudah ada 10 macam motif untuk batik cap. Semua bertemakan Surabaya. Mengandung unsur daun semanggi, daun jarak, Tugu Palawan, patung Sura Baya dan sungai Kalimas. Batik cap menjadi primadona konsumen, karena proses pengerjaannya cepat hanya memakan waktu satu minggu. Disinggung inovasi motif, pengrajin disana masih mempertahankan motif yang ada.
“Kita masih memperkenalkan diri. Motif batik cap yang ada, masih digemari. Kalau ada yang baru, motif tetap bertema Surabaya,” pungkas lelaki yang akrab disapa Pengky itu. (rpp/rud)
Editor : Administrator