SURABAYA – Tim Mitigasi Kelongsoran Jalan Raya Gubeng merekomendasikan proyek basement segera diuruk total. Rencana ditimbunnya proyek yang berada di sisi barat tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya longsoran lagi, sebab dilokasi masih banyak kendaraan berat melintas di jalan tersebut.
Wakil Koordinator PT Nusa Konstruksi Enjiniring (PT NKE) Demi Basturiah mengatakan, dirinya saat ini sedang berkoordinasi dengan pihak terkait untuk segera melakukan penimbunan. “Tidak terlalu lama, kita akan timbun kembali basement yang masih kosong ini. Penimbunannya sama, seperti material pasir dan batu (sirtu). Semuanya kita timbun dengan sirtu. Dengan elevasi (ketinggian,Red) yang sudah direkomendasikan oleh Kementrian PUPR,” jelas Demi, Jumat (28/12).
Selain itu ia juga mengatakan, sirtu akan kembali didatangkan dari Ngoro, Mojokerto dengan estimasi total sirtu yang dibutuhkan sekitar 30.000 truk. Elevasi tanah di basement RS Siloam tersebut akan berada di kisaran minus dua atau minus satu meter dari badan jalan. Ia juga mengatakan, kemungkinan proses penimbunan dimulai paling cepat pada hari Minggu (30/12) mendatang.
Di lokasi yang sama, Ketua Tim Survei Dampak Galian Basement Amien Widodo menjelakan, pihaknya akan melakukan pemasangan paku atau tanda untuk memastikan bahwa tanah bekas amblesan dilokasi tersebut tidak ada pergerakan yang dapat menyebabkan ambles.
“Jadi kita mau memastikan, bahwa disitu tidak ada pergerakan lagi, seperti di gedung BNI dan Elizabeth tidak ada pergerakan lagi,” jelasnya.
Saat akan melakukan pemasangan paku, dirinya telah menyiapkan beberapa alat, seperti Sipat Datar, global positioning system (GPS), dan Laser. Dirinya tidak hanya melakukan pemasangan tanda paku tersebut di bagian depan gedung saja, tetapi di seluruh titik bekas amblesan jalan.
Rencana pemasangan itu masih belum bisa, pasalnya di lokasi masih terdapat getaran dari alat proyek yang masih mengerjakan sisi barat Jalan Raya Gubeng.
“Tadi masih banyak getaran-getaran dari alat berat proyek, dan mengganggu kinerja alat kami. Karena di sisi barat masih ada pemasangan steel sheet piles (SSP), membuat getaran di lokasi,” terangnya.
Rencananya pemasangan paku akan dilakukan setelah akhir tahun baru 2018. Melihat kondisi yang tidak memungkingkan seperti saat ini, ia belum bisa memastikan untuk pengukuran dan penanaman tanda paku tersebut.
“Tadi masih ramai orang, dan masih ada pengurukan ulang. Jadi tidak sempat ini tadi. Ya tanggal 2 Januari baru bisa,” tandas pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.(gin/rud)
Editor : Administrator