19 September 1945 arek-arek Surabaya menyobek warna biru bendera Belanda yang berkibar di Hotel Yamato, Surabaya. Aksi heroik ini tak pernah lekang meski terjadi 73 tahun lalu.
Gatra Dharmawan/Radar Surabaya
Arek-arek Suroboyo masa kini tak ingin melewatkan untuk mengingat peristiwa bersejarah tersebut. Beberapa tahun terakhir, peringatan dilakukan dengan menggelar dara teaterikal. Pada peringatan tahun ini, drama melibatkan perwakilan 20 komunitas seni dan sejarah se Indonesia. Para pemainnya dipilih melalui seleksi ketat. Selanjutnya, yang lolos menjalani latihan selama satu bulan agar tampil secara maksimal. “Tadi pagi (Rabu, 19/9,Red) sekitar pukul 4 pagi, kami (para pemain,Red) sudah kumpul disini (Hotel Majapahit,Red) untuk gladi bersih. Latian memasang tangga, terus naik ke atas gedung. Intinya persiapan fisik,” kata Aktor pemeran perobek bendera, Ali Machfud, Rabu (19/9).
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini terlihat histeris. Dia mengaku mengalami perasaan yang campur aduk setelah berhasil merobek bendera warna biru. Dia merasakan betapa beratnya perjuangan generasi dahulu dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Tetapi, saya juga senang ketika penonton berteriak waktu saya menyobek (bendera biru,Red),” terangnya.
Teaterikal insiden Hotel Yamato ini seolah memunculkan kekuatan magis. Warga yang menonton secara sepontan berteriak seolah terlibat dalam pertempuran masa lalu.
“Nggak tau kenapa kok saya sampai ikut teriak, mungkin karena aktingnya (pemeran drama,Red) bagus ya. Saya tadi juga sempat nangis waktu menyanyikan lagu kebangsaan,” ujar salah seorang penonton, Faradila Desiyanti.
Siswi SMPN 1 Surabaya ini mengaku ikut berteriak ketika perobekan bendera. Padahal, dirinya mengaku sudah mengetahui alur cerita drama tersebut.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengapresiasi respon penonton. Dirinya menilai, hal tersebut merupakan bukti adanya semangat juang masyarakat.
“Tadi mereka (penonton,Red) juga ikut berteriak-teriak ketika adegan perobekan bendera. Itu merupakan bukti sudah terbentuk dan terbangun semangatnya,” tutur Wali Kota Surabaya tersebut.
Tontonan seperti ini sangatlah penting untuk anak-anak. Karena selain dibekali kepandaian, mereka juga harus mengantongi semangat juang yang besar. Kedepannya tantangan generasi muda masa kini semakin berat, terutama menghadapi World Trade Organization (WTO) di tahun 2020. “Mangkanya kalau cuman pintar tapi tanpa daya juang, mereka akan gampang menyerah,” pungkas perempuan asal Kediri tersebut.(tra/rtn)
Editor : Administrator